Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Sabtu, 04 Mei 2013

Anak Langit

Sabtu, 04 Mei 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.


Kenapa langit warnanya biru?
Kemaren kan udah dijelaskan, Pak.
Jawab saja.
Cahaya itu gelombang. Merah, Kuning, Orange itu gelombang panjang. Biru itu gelombang pendek. Sedangkan atmosfer itu satu frekuensi dengan gelombang pendek terutama warna biru.  Jadi, atmosfer menahan dan menghamburkan warna biru itu di langit. Itu mengapa langit warnanya biru, Pak.
-Penggalan percakapan dalam film Habibie Ainun-

*****
Suatu ketika, pernah terbesit dalam benakku, mungkin aku adalah anak langit. Rasaku bergantung pada langit, dan langit menyayangiku dengan warna-warnanya. 

Ketika resah tiba-tiba datang berkunjung, aku hanya perlu memandang langit. Lantas ia akan memberiku sebuah senyum yang berwarna biru. Dan seketika, bum! Warna kelabu yang sebelumnya menyelimuti hatiku, hilang begitu saja.

Aku betah duduk bermenit-menit, bahkan berjam-jam hanya untuk memandangi langit. Aku tak peduli ketika leherku teleh merasa pegal dan cengang karena terlalu lama mendongak. Mungkin, jika tak mempunyai kewajiban lain di dunia ini, aku bisa saja duduk berhari-hari atau berbulan-bulan untuk memandang langit.

Mungkin aku adalah anak langit.

Karena ketika
sedih datang menghampiri, maka aku akan mengadu pada langit. Kemudian dengan senyumnya yang berwarna biru ia akan menghapus kesedihanku. Dengan birunya, ia memberiku ketenangan tiada tara. Langit bercerita padaku, biru berarti setia, penuh cinta, menangkan, walau terkadang penuh kecemasan dan sukar untuk rileks. Ya, aku tau langit mencintaiku dengan birunya. Katanya, tak perlu bersedih, karena selalu ada yang mencintaiku, terasuk dirinya.

Ketika lara masih juga melukaiku, langit akan menghiburku dengan senyumnya yang berwarna semburat putih. Komposisi yang indah, bagai sebuah lukisan karya sang maestro. Langit bercerita, putih berarti damai, suci, sempurna. Kata langit, tak perlu bersedih karena kedamaian berasal dari dalam hati. Tak perlu bersedih, karena kesedihan berasal dari dalam diri dan diri sendiri lah yang dapat menghapusnya. Ciptakanlah rasa damai, maka kesedihan itu akan luluh seketika.

Mungkin aku memang anak langit.

Karena ketika seutas senyum berhasil mengembang di bibirku seusai menangis, maka langit akan menghadiahkan jutaan lukisan indah yang lain. Lukisan-lukisan biru putih yang meliarkan imaji dalam kepalaku. Katanya, ia suka melihat dahiku berkerut, alisku bertaut merapat, dan kemudian membelalak terpesona ketika sedang memikirkan makna di balik lukisannya.

Aku pernah mengatakan pada langit, betapa aku menyukai dirinya. Dan langit menunjukkan senyumnya yang juga berwarna biru, sebuah senyum penuh cinta. Ketika aku mengatakan betapa aku mengagumi keindahannya yang maha luas, betapa aku mengagumi pancarannya yang biru bening, ia menghadiahiku warna-warni jingga yang kian mempesonaku.  Katanya, jingga berarati kesenangan, semangat, dan rasa ingin tahu yang besar.

Mungkin aku benar-benar anak langit.

Ketika aku mengadukan padanya betapa tersingkirnya aku dari alam inspirasiku, ia akan memberiku sejuta inspirasi melalui warna senjanya. Semburat kuning dan jingga kemerahan di ufuk barat. Katanya kuning berarti imajinasi, kepandaian, dan kebahagiaan. Titahnya, cukuplah aku memandang senyumnya di kala senja, senyum yang berwarna kuning kejinggaan, maka inspirasi akan datang menghampiriku.


Mungkin akulah anak kecintaan langit. Karena ketika sejuta kupu-kupu menggelitik perutku dan memenuhi rongga dadaku dengan kebahagiaan, maka aku aku akan membaginya pada langit. Dan ia membalas ceritaku dengan mengisahkan kisah raja-raja di masa lampau yang terekam dalam memori para bintang. Langit akan menggelar pertujukan hebat untukku. Pertunjukan maha megah dengan latar hitam pekat dan pemeran utama berupa bintang-bintang yang terus berkilauan.   

Ketika insomnia menjangkitiku hingga aku merasakan sesak karena tak dapat memejamkan mata, langit menghadiahiku dengan senyumnya yang berwarna hitam kelam. Senyum yang memberiku ketenangan hingga aku dapat melupakan sejenak semua masalah dan memejamkan mataku.

Mungkin aku benar-benar anak langit.

Karena, setiap malam, ketika mataku mulai terpejam, langit akan mendongengiku dengan kisah para ksatria yang tewas dalam peperangan dan berubah menjadi bintang. Ia akan terus mendongengiku hingga aku terlelap.

Aku suka warna-warni senyum sang langit. Tidak hanya biru. Namun juga jingga-kuning, putih, dan hitam. Semua warna senyumnya. Karena aku adalah anak langit, aku menyukainya, dan langit juga menyukaiku.

Pernah langit bertanya padaku. Mengapa aku begitu menyukai memadang warna-warna senyumnya yang terus menerus berubah seiring putaran pasir waktu. Katanya lagi, bukankah dalam duniaku orang-orang pandai telah menemukan pewarna sintetis yang dapat menduplikasi warna-warna senyumnya.

Dan aku hanya menjawab, “karena aku menyukai semua warna senyummu. Tidak ada datu pun di dunia ini yang dapat menyamai warna senyummu. Semirip apapun, warna sintetis hanyalah tiruan.”
Dan kemudian langit bertanya, “Bagaimana dengan senyum laut? Ia saudaraku, tentu saja ia memiliki senyum biru yang sama dengan ku. Apakah kau juga menyukainya?” Aku hanya menjawab dengan senyumku yang berwarna biru. Tentu saja.

Jadi ketika ada orang yang bertanya apa warna kesukaanku, aku akan menyebutkan namamu. Langit.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Referensi: http://www.merdeka.com/gaya/11-jenis-kepribadian-sesuai-warna-favorit.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^