Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure
Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Kisah 17 dan 18

Minggu, 13 Maret 2011
Mangunan - Kepompong Adventure SMA 1 BAntul

17!
Tujuh belas..

Menjadi tujuh belas
menjadi bergelora
menjadi anai di tanah lika liku api hidup yang membara

Menjadi tujuh belas,
menjadi ambisi
ada impian di setiap pelupuk

Namun semua itu tak abadi
seumpama kapuk lapuk seiring waktu merajut, menepuk
atau memang dorman asa yang menanti akan air dan pupuk

Menjadi tujuh belas
hanya manis asam yang kan tersisa
karena kini kita berjalan menuju delapan belas

18!
Delapan belas!

finding the rute for Kepompong Adventure


Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Selasa, 24 November 2009

RINDU KEMBALI KE ALAM

Selasa, 24 November 2009
AKU RINDU ALAM
It has been a long time since I had my last adventure…. Even now I don’t remember how was my last adventure.. Coz now, everyday is an adventure (maybe)

Aku rindu menjadi seorang Pramuka. Aku rindu tempatku bersua, alam.

Alam memberiku banyak keajaiban untuk dipahami dan disyukuri. Dari alam aku belajar untuk mencinta dan menerima segala suratan yang telah tersurat. Alam menyajikan music terindah, harmoni molekul-molekul yang berpadu satu dalam partirtur musik terindah, simfoni alam. Alam menyajikan lukisan terindah, balance seluruh tekstur, kontras, dan bidang dalam lukisan terindah, lukisan alam. Alam menyajikan senyawa terindah untuk dikecap indera, alam menyajikan unsur ternikmat untuk dihirup, alam menyajikan segalanya. Kehidupan!!

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Kita, sekelompok pemuda pencinta alam, pencinta tantangan, pencinta petualangan. Maybe orang lain menganggap kita sebagai sekelompok orang konyol yang freak, kumpulan orang yang mau bersusah-susah saat teknologi membuat semua mudah. Tapi sedahsyat apapun globalisasi, kita tidak akan terpengaruh. Toh, kita sudah punya jiwa kita, karakter yang selalu abadi bersama alam. Bersyukurlah karena kita tidak terlalu terlena dan termanjakan oleh teknologi.

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Saat kita menertawakan petaka dan nestapa. Saat kita memusnahkan duka dan derita. Ingatkah? Aura kita sangat kuat, bahkan mampu meluluhkan karang dan cadas, mampu menaklukkan puncak tertinggi. Aura kita, aura pembangkit semangat yang padam. Menelusuri celah-celah terdalam relung jiwa, menemukan dia yang tertidur, mengajaknya terbang dan meluncur bersama hembusan angin.

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Aku rindu tawa kerikil kala kita menginjaknya, atau desah dedaunan kala kita melintas, juga senyum udara kala kita bersua. Aku rindu butiran air yang menghempas wajahku dengan kesegaran kebebasan. Aku rindu cadas terjal yang kita lalui untuk menggapai pintu keluar labirin itu. Aku rindu pepohonan yang selalu menyapa kita dengan kehangatannya. Aku rindu semuanya! Bahkan rumput basah dan aspal kering tempat kita pergi ke alam mimpi malam-malam itu. Atau udara dingin menusuk yang mengganggu tidur kita malam-malam itu! Ah…, alam terlalu indah untuk dilupakan.

Aku rindu saat kita bersama, memanjat wall tinggi di padang penuh alang-alang itu. Saat kita berlomba untuk mencapai yang tertinggi, merasakan angin yang menerpa dan menghalangi untuk memanjat lebih tinggi. Merasakan tubuh-tubuh penuh peluh dan jantung bergemuruh yang bersandat pada besi dingin. Merasakan hambarnya karat pada besi yang teroksidasi. Walaupun saat itu keluh karena baju menjadi kuning dan tangan menjadi kotor terus terucap, namun kini hanya kegembiraan yang menjadi kenangan.

Aku rindu…

Kini alam menjauh dariku. Ah, bukan! Akulah yang menghianati alam. Aku pergi darinya. Payah!

Dan kini aku hanya berkutat dengan buku-buku itu, dalam lautan rumus, teorema, dan teisi-tesis yang mengencangkan neuron-neuron. Aku hanya berkutat dengan protulat berjibun, yang bahkan makna prostulat itu sendiri pun aku tidak tahu. Trauma masa lalu yang mulai terpupus dan terlupakan seakan ditarik paksa dari dasar tergelap dalam kepalaku. Aku telah berpayah-payah melupakannya, berusaha mengahpusnya dari duniaku agar tidak ternoda. Tapi sekarang, haruskah aku menarik kembali memori itu? Sia-sia, toh kita menuju masa depan, bukan masa lalu.

Sekali lagi, aku rindu kembali berada di alam… mungkin tomorrow, atau the day after tomorrow aku akan kembali lagi. Saat semua rumus, teorema, dan prostulat itu telah kutaklukkan dan kubuang jauh ke tungku pembakaran.

Alam, tungu saja aku. I’ll be back
Klik untuk membaca lanjutannya

4 komentar

Senin, 23 Februari 2009

Menggapai Kiskendo

Senin, 23 Februari 2009



Sore menjelang malam, sang surya mulai terbenam
Berjalan menempuh Pajangan merajut jingga bersemu merah
Langkah demi langkah bersama kembara
Kujalani dengan semangat berkobar
Manoreh masih terbentang nun jauh di sana
Ayo kawan, jalan kita masih panjang!

Canda tawa menghias cadas sepanjang jalan
Adzan berkumandang, namun belum jua menemukan tempat bersua
Keputusasaan antara harapan dan kwajiban
Berhenti dulu kawan! Kita harus menghadap-Nya

Dingin malam menyergap seluruh sumsum tulang
Sunyi.... Senyap.... Gelap....
Gelak tawa tetap terucap
Gelap malam menyesatkan,kawan
Berhati-hatilah!
Jembatan merah, sungai, dan  rel membentang
Si Bajak laut dari Timur tak berkutik
Berusaha kembangkan layar di daratan Barat
Namun tak kunjung berlayar sua, malam menarik untuk berlabuh
Westprog yang kelam bukanlah dunianya
Macet... Tersendat

Dahaga membakar tenggorokan, lapar menggigit perut
Dimanakah sumber air kehidupan?
Hanya dahaga yang tersisa
Bercumubu bersama sunyi dan sepi
Orang-orang, dimanakah mereka?

Hutan menyergap dalam hening malam
Bintang tersembunyi malu di balik desir awan
Semangat yang membara kini mulai padam oleh bayang
Kiskendo, dimanakah dirimu????

Malam tahun baru itu
Kulalui dengan tersenyum lelah di tepian setapak
Letupan kembang api seakan menggoda
Suara terompet berteriak menyadarkan
Dimana aku? Apa yang sedang aku lakukan?
Aku rindu pulau kapukku di rumah
Empuk.... hangat

Lelah kawan...
Namun perjalanan masih panjang
Kiskendo, dimanakah dirimu???

Beth0ven menyalak galak berusaha menghantui
Gadis genit berteriak manja, mengundang para penjaga
Tanjakan tinggi menjulang di depan pandangan
Rintik hujan masih saja berusaha mengejar mengikuti
Dingin...

Terbuai di aspal hangat
Hitam kelam selezat Blackforest
Berselimut bintang berlampu rembulan
Perjalanan masih panjang kawan...
Kiskendo, dimanakah dirimu.........!!!!!!
Dimana...!!!! Klik untuk membaca lanjutannya

2 komentar

Jumat, 06 Februari 2009

Berubah...

Jumat, 06 Februari 2009

Kelas XI ini jiwaku udah menyatu sama Ambalan (Pramuka), pokoke dah gak bisa dilepasin. Bagaikan air n minyak -gak pernah akur. Saking menjiwai Pramuka, hidupQ jadi berubah 720 (muter-muter doank) derajad. Ni contohnya:

-Hidup ini bawaannya jadi ngirit banget ,malah hampir POKIL ( POKIL= suuangat suangat pelliiiit banget)
-Kalau punya sampah pasti disakuin ato dimasukin tas (alhasil tas n sakuQ udah kayak tempat sampah berjalan)
-Betah nggak mandi berhari-hari. Apa lagi kalo naek gunung, 3 hari nggak mandi, BAB Cuma di semak-semak doank – ihhh….
-Suka kegiatan yang nyengsarain diri sendiri. Misalnya PERMATABA (perjalanan malam tahun baru), jalan 35 km dari Pajangan (Bantul) sampai Gua Kiskendo (Kulon Progo).
-Mau makan apa aja. Ni gara-garanya kalau lagi pergi-pergi suka kehabisan logistic. Jadi apa aja yang diliat pengen dimakan (mungkin temen sendiri juga bisa dimakan , ati-ati aja..)
-Selalu bawa air minum. Soalnya air minum tuh kebutuhan yang vital bgt! Aq g bisa hidup 1 jam pun tanpa aer minum (hiperbol)
-Bisa tidur diamana aja n pake alas apa aja. Mau pake alas mantrol, daon, atau jaket. Tapi kalau malem-malem yang paling enak di jalan aspal (anget!)

PRAMUKA ntu asik banget Man!! Walopun kalok dipikir-pikir, Pramuka itu sukanya cari susah. Udah ada kompor, masih aja survival pakek kayu. Kalok lagi liburan enakan tidur di rumah malah nyepeda sampe prambanan (40 km), kenapa gak pake motor coba? But its the interest of Life!

Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar