Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure
Tampilkan postingan dengan label kisah anak rantau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah anak rantau. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Tips backpacker wisata

Senin, 05 Maret 2012
Sekitar seminggu yang lalu saya dan teman-teman pergi ke Bali untuk mengsi waktu liburan. Acara tersebut kami beri nama “Secondary Goes to Bali” walaupun hanya beberapa orang saja dari kelas kami yang ikut. Kami pergi ke sana tidak menggunakan bus wisata atau pesawat sekali jalan, namun dengan ngeteng (naik angkutan umum yang satu kemudian dilanjutkan dengan angkutan umum yang lain).

Keuntungan dari backpacker dengan cara ngeteng ini adalah kita dapat menikmati perjalanan dengan mengenal daerah-daerah transit dan hemat biaya. Biaya perjalanan kami dari Jogja ke Denpasar Bali hanya 66 ribu rupiah, murah bukan? Memang sih, membutuhkan waktu yang lebih panjang. Selain itu kita juga bebas menentukan waktu dan tujuan wisata karena tidak terikat jadwal.

Cewek biasanya ribet. Dari pengalaman saya, kalau pergi wisata biasanya cewek membawa barang bawaan yang lebih heboh dibanding cowok. Alhasil tas yang dibawa pun sampai sebesar koper padahal yang cowok hanya sebesar tan ransel atau tas ukuran sedang untuk bepergian. Dan seperti kata teman saya, cewek itu selalu membawa koper dan kulkas.

Ini dia tips bagi kamu-kamu yang ingin berwisata dengan cara backpacker,
Klik untuk membaca lanjutannya

5 komentar

Jumat, 03 Desember 2010

Bluish (just an abstract story)

Jumat, 03 Desember 2010
Bintaro, 30 Oktober 2010


Dingin dan hening,
Satu menit tepat berlalu dari waktu tengah malam.
Entah ini malam atau pagi, aku tak bisa membedakannya, hanya ada dingin yang menggigit hingga ke tulang. Dingin yang sebelumnya belum pernah ku rasakan di tempat ini, belum. Tempat ini selalu gerah dan panas.

Ruang tengah, di tempat kami biasa berkumpul, masih ada sisa-sisa saus dan remah kue bawang. Sahabat setia kami dalam menikmati setiap lembar kain pembungkus mumi yang menguning, menikmati ekspresi monster-monster pharaoh dan piramid-piramid tua .
Ruang tengah masih menyala dan sesekali suara televisi masih terdengar. Entah siapa yang masih bertahan.

Dingin...
Dingin yang menusuk tulang..
Aku tidak tahu darimana rasa dingin ini berasal, apakah dari butiran uap di awan, dari gas pembuangan respirasi tumbuhan, subliman butiran partikel awan, ataukah dari hatiku yang membeku?
Rasa dingin ini tidak berasal dari tempat mana pun di dunia ini, tidak. Hanya satu dari sumber dingin yang memebkukan sumsum tulang ini, inside of my self

sumber cahaya api biru dalam hatiku mulai meredup, dan entah kapan akan padam.
Aku menjaganya dengan sepenuh hati,
Menutupinya agar api lain tidak masuk dan memakan api biruku,
Mempererat tirai yang menyelimutinya agar angin tak memadamkannya,
Tapi api itu hidup. Dan ia terus memberontak dalam genggamanku, ia ingin bebas dan bergerak,
Aku menyayangi apiku. Aku menyayanginya.
Apiku, sumber kehangatanku.
Dan ia ingin terbang bebas seperti elang. Akutahu ia tak akan mungkin bisa,
Hanya oksigen dari hatiku yang mempu membuatnya bertahan dan menyala.
Tapi ia ingin terbang, melintasi lautan katanya.
Ah biar saja.
Pergilah api biruku.
Pergilah jika kau memang ingin pergi.
Hush!
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Jumat, 29 Oktober 2010

Bintaro

Jumat, 29 Oktober 2010
29 Oktober 2010
Bintaro,
Satu bulan lebih ragaku berada di ranahmu,
Namun alam pikirku akan selalu terbang dan melayang ke awang-awang,
Lebih tinggi lagi hingga lapisan troposfer dan ionosfer menipis,
Dan disana aku bisa melihat nya.
Kota kelahiran yang penuh dengan kenangan, harapan, dan asa.

Dan aku masih mengingat jelas;

lajur-lajur hitam yang tercetak jelas,
kadang lurus dan mulus,
kadang berkelok dan bergelombang.
Masih teringat jelas bangunan-bangunan yang menghiasi tepinya,
jalanan yang dulunya sepi dan asri kini mulai dipadati rumah dan ruko.
Sepuluh tahun ke depan,
akankah kau menjadi seperti tempatku sekarang?
Ku harap tidak. Aku cinta kesegaran dan keramahanmu.

Aku masih ingat derasnya aliran air yang membentang membatasi kalian berdua,
eloknya penyebrangan di pagi hari,
ataupun silaunya sang surya yang memancar jingga di kala senja.

Aku masih ingat sapaan pohon-pohon ketika aku melaju dengan acuh di pagi hari,
tatapan iri bulir-bulir padi ketika aku melesat,
juga derit roda wanita perkasa,
yang berangkat sebelum subuh dan pulang saat mentari telah pergi ke ribaannya.

Bahkan aku rindu lampu lalu lintas kala menyala merah.
Kala diburu waktu dan yang terdengar hanya sumpah serapah.

Aku bisa mengingat semuanya dengan jelas,
setiap sudut dan setiap titik.

Bintaro,
Bintaro,

Mungkin kau lebih megah dengan semua gedungmu yang kokoh dan menjulang tinggi
beton-beton yang bertumpuk tinggi,
menyongsong angin, berusaha mencakar langit
Mungkin kau lebih lengkap dengan mall-mallmu yang menjamur di setiap sudut
dengan outlet-outlet yang mngisinya dengan rasa sengit persaingan
Mungkin jalur hitammu lebih terorganisir dengan tol-tol panjang di sepanjang batas
dengan mobil-mobil mewah yang melaju memecah malam
dan taksi-taksi yang melaju terburu-buru,
entah apa yang memburu mereka

Bintaro,
Bintaro,
Maaf...

Mungkin aku belum sepenuhnya mencintaimu dengan segala kepenatanmu,
Mungkin aku belum bisa sepenuhnya mengagumi tanahmu,
tanah merah yang selalu menggenang setelah hujan reda
Mungkin aku juga belum bisa sepenuhnya menerima udaramu yang menyesakkan paru-paruku di malam hari
Mungkin aku juga belum bisabersahabat dengan pohon-pohonmu yang selalu acuh padaku,
yang enggan memberikan kerindangannya saat bola itu bersinar terlalu terik.

Mungkin suatu saat,
Mungkin esok,
Atau lusa,
Bulan depan, atau tahun depan,
Atau ketika aku tlah pergi jauh meninggalkanmu,
Ketika aku telah merantau jauh menyebrangi alut dan samudera,
Ketika aku tlah berada di pulau perantauan.
Mungkin kala itu aku akan rindu padamu
Mungkin kala itu aku akan mengingatmu dengan segala kepenatanmu,
Mungkin kala itu aku akan mulai mengenagmu dan mencintaimu
Mungkin,
Tapi tidak sebesar rasaku pada-nya.
Tidak...

Wake me up when December ends...

Klik untuk membaca lanjutannya

1 komentar