Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Kamis, 18 April 2013

SAUNG ANGKLUNG UDJO, RUMAH BUDAYA PASUNDAN

Kamis, 18 April 2013
Laporan Perjalanan
Oleh: Muamaroh Husnantiya



Adalah Saung Angklung Udjo, sebuah sanggar seni yang berlokasi di Jalan Padasuka 118 Bandung. Saung ini merupakan sebuah sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni, laboratorium pendidikan, sekaligus objek wisata khas Jawa Barat. Uniknya, saung yang diprakarsai oleh Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati ini memberdayakan masyarakat sekitar.

Beruntung saya dan mahasiswa Program Diploma III Kebendaharaan diberi kesempatan mengunjungi Saung ini dalam acara Studi lapangan yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Anggaran dan didukung oleh pihak sekretariat STAN.

Senin (15/04/13) sore itu, tepatnya pukul 17.45, rombongan kami tiba di SaungAngklung Udjo. Tak disangka, suasana sejuk dan nyaman menyambut kami. SaungAngklung Udjo dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, dari kerajinan bambu dan interior bambu sampai alat musik bambu. Mungkin, nuansa bambu itulah yang memanjakan mata kami, sangat berbeda dengan nuansa perkotaan yang padat akan gedung-gedung beton pencakar langit.

Selain tempat pertunjukan, Saung Angklung Udjo juga menyediakan
toko suvenir dan lahan parkir yang luas. Cocok bagi rombongan dalam jumlah besar yang ingin mengadakan karya wisata, termasuk kami. Toko suvenir Saung Angklung Udjo menyediakan beragam jenis barang-barang kerajinan khas Sunda seperti gantungan kunci, miniatur angklung hingga angklung asli, hiasan rumah, dan pakaian. Selain barang-barang yang dijual memang unik dan memiliki nilai seni tinggi, harganya pun tidak sulit dijangkau.

Di samping pertunjukan rutin setiap sore, Saung Angklung Udjo telah berkali-kali mengadakan pertunjukan khusus yang dilakukan pada pagi atau siang hari. Pertunjukkan tersebut tidak terbatas diadakan di lokasi Saung Angklung Udjo saja, tetapi berbagai undangan tampil di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri.

Malam itu, saya dan rombongan diberi kesempatan iuntuk menyaksikan pertunjukan seni di Saung Angklung Udjo. Bertempat di sebuah panggung dengan tiga tribun kecil, kami dapat dengan jelas melihat para seniman tradisional, mulai dari dalang wayang golek, para pemusik pengiring pertunjukan, juga para penari.

Dengan meredupnya latar lampu, suasana remang-remang pun tercipta, dan pertunjukan pun dimulai. Dua orang pembawa acara, Teh Gira dan Teh Awit memasuki latar pertunjukan, memberikan kalimat pembuka, dan pertunjukan pun dimulai.

Wayang Golek, Wayang Khas Sunda

Wayang Golek
Rupanya demonstrasi Wayang Golek menjadi pertujukan pembuka malam itu. Mengapa demonstrasi? Karena konon, pertunjukan Wayang Golek yang sebenarnya dapat memakan waktu hingga semalam, yakni 7 jam. Di Saung Udjo ini, walaupun kami hanya menyaksikan demonstrasinya yang berdurasi 15 menit, namun kekocakan si dalang cukup untuk menghibur. Tentunya juga menambah wawasan budaya mengenai wayang golek.

Wayang Golek sendiri merupakan wayang khas Sunda, yaitu pementasan sandiwara boneka kayu yang menyerupai badan manusia lengkap dengan kostumnya oleh seorang dalang. Pada mulanya pertunjukan ini sering dipentaskan sebagai bagian upacara adat, seperti upacara bersih desa, ngaruwat, dan lain-lain. Secara filosofis, kata wayang berarti bayangan yang merupakan pencerminan dari sifat dalam jiwa manusia,  seperti angkara murka, kebajikan, dan serakah. Dalam setiap pementasannya, wayang selalu membawa pesan moral agar kita selalu patuh pada Sang Pencipta dan berbuat baik pada sesama manusia. Ia yang menanam kebaikan, ia yang akan menuai kebahagiaan, dan ia yang melakukan kejahatan, ia lah yang akan menanggung akibat.

Ada dua wayang golek yang terkenal, yaitu wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa. Pertunjukkan wayang golek diiringi gamelan Sunda (Salendro) dan diiringi oleh tembang yang dinyanyikan oleh Sinden. Namun pada pertunjukan wayang di Saung Udjo kami tidak melihat adanya sinden (penyanyi wanita)

Adapun pola utuh pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut:
  • Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara
  • Babak unjal, paseban, dan bebegalan
  •  Nagara sejen
  • Patepah
  •  Perang gagal
  • Panakawan/goro-goro
  •  Perang kembang
  • Perang raket
  • Tutug
Namun tentu saja kami tidak melihat pertunjukan wayang secara keseluruham, hanya demonstrasi 15 menit.

Selain sebagai media hiburan, pertunjukkan wayang golek juga memiliki fungsi lain yang sangat penting bagi masyarakat setempat, yakni ngaruat. Selain untuk kebutuhan spiritual, pertunjukan wayang untuk saat ini juga sering dipertunjukan dalam acara perayaan seperti khitanan, pernikahan, dan lain-lain.

Helaran, Pengiring Khitanan dan Panen Padi
Seusai pementasan Wayang Golek, kami disuguhi dengan pertunjukan “Helaran”.  Helaran sering dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan dan upacara panen padi.

Helaran
Dalam Helaran, digunakan angklung dengan nada Salendro atau Pentatonis “Da Mi Na Ti La Da” yaitu nada asli angklung Sunda. Helaran dimainkan dengan nada riang gembira dengan tujuan menghibur dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Malam itu, Helaran dimainkan untuk mengiringi upacara khitanan seorang anak kecil berpakaian khas Sunda berwarna merah dan  diarak di area pertunjukan.

Selain Wayang Golek dan Helaran, di Saung Udjo juga biasa dipentaskan beberapa tari tradisional yaitu, tari Topeng dan Tari Merak. Tari Topeng terdiri atas dua babak. Babak pertama dimainkan tanpa topeng dengan cerita Layang Kumintir, pembawa berita untuk Ratu Kencana Wungu dari Majapahit, yang sedang menyelidiki keadaan di Kerajaan Blambangan. Babak kedua memakai topeng dengan cerita Layang Kumintir menyamar menjadi seorang pria gagah perkasa untuk melawan Prabu Menakjingga. Topeng tersebut merupakan penggambaran karakter manusia.

Sayang, kami tidak sempat disuguhi pertunjukan tari-tari yang menakjubkan ini.

Angklung, Seni Warisan Daeng Soetigna
Angklung di Saung Angklung Udjo
Berikutnya kami disuguhi pertunjukan seni musik oleh grup musik Arumba. Dalam pertunjukan ini terdapat beberapa alat musik yang dimainkan seperti, gamelan dan angklung.

Ternyata alat musik tradisional pun dapat memainkan berbagai macam aliran musik, dari lagu tradisional hingga modern, dari musik dalam negeri hingga luar negeri. Ada lima buah lagu tradisional yang dimainkan saat itu. Lagu-lagu tersebut mewakili keanekaragaman budaya di seluruh nusantara di antaranya adalah Bungong Jeumpa, Kicir-Kicir, Cublak-Cublak Suweng, serta Yamko Rambe Yamko.

Momen yang paling menyenangkan bagi kami, adalah saat kami diberikan masing-masing sebuah angklung. Angklung tersebut ternyata dipergunakan untuk dipelajari dan dimainkan bersama-sama.

Kami pun mulai belajar memainkan angklung. Jika di kampus, mungkin hanya mereka yang mengikuti kegiatan Sabdanusa—atau yang mendapat tugas untuk menampilkan budaya Sunda saja—yang berkesempatan untuk mempelajari angklung. Namun di sini, kami semua berkesempatan untuk memainkan angklung.

Setiap angklung memiliki tangga nada masing-masing, 1-2-3-4-5-6-7 dan seterusnya. Kebetulan saat itu saya mendapat angklung dengan nada re, nada yang dimainkan tidak sesering nada sol. Ternyata tidak susah untuk memainkan angklung. Dengan panduan pembawa acara, kami memainkan beberapa buah lagu dari yang paling mudah hingga yang cukup sulit. Sangat menyenangkan. Sayang, angklung-angklung tersebut hanya dipinjamkan, bukan untuk dibawa pulang.

Angklung sendiri adalah sejenis alat musik yang terbuat dari bahan bambu yang mempunyai suara dan irama yang khas. Angklung merupakan gabungan dari beberapa instrumen yang terdiri dari pipa bambu dengan ukuran yang berbeda-beda dan ditempatkan di suatu bingkai yang kecil dan diguncangkan untuk mengeluarkan bunyi.

Salah satu angklung tertua yakni Angklung gubrag di Jasinga, Bogor. Ia masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Angklung Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan.

Terdapat beberapa macam angklung tradisional. Angklung-angklung tersebut antara lain Angklung Kanekes, Angklung Dogdog Lojor, Angklung Badeng, Angklung Bungko, Angklung Buncis, dan Angklung Modern (Padaeng) ciptaan Daeng Soetigna. 

Menari Bersama, Penutup atas Perjumpaan
Pertunjukan di Saung Angklung Udjo
Setelah bermain angklung, saatnya para putra-putri Saung Angklung Udjo memainkan pementasan angklung bersama-sama. Di akhir pertunjukan, kami para penonton ditarik untuk ikut serta turun ke latar untuk menari bersama-sama putra putri Saung Angklung Udjo. Suasana semakin meriah karena banyak dari kami yang turut serta menari bersama.

Tarian yang dimainkan adalah tari-tari tradisional dengan diiringi alat musik tradisional pula. Dengan berakhirnya acara menari bersama, berakhir pula rangkaian pertunjukan dari Saung Angklung Udjo. Rasa lelah pun lenyap karena gembira dan puas selama menikmati pementasan yang dipersembahkan oleh Saung Angklung Udjo.

SaungAngkulng Udjo, di tempat inilah kesenian musik Angklung dilestarikan. Berdirinya padepokan ini juga tidak lepas dari bantuan dan dorongan Bapak Daeng Soetigna, seorang tokoh angklung yang juga merupakan guru dari Mang Udjo.

SaungAngklung Mang Udjo menawarkan daya tarik wisata dengan menampilkan pertunjukan angklung dan demonstrasi berbagai kesenian Sunda lainnya yang dibawakan oleh kelompok anak-anak setempat. Sungguh menyenangkan dapat datang dan nikmati pagelaran, serta pelajari cara memainkan Angklung di tempat istimewa ini.


0 komentar:

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^