Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Rabu, 20 Januari 2010

NEWTON VS EINSTEIN

Rabu, 20 Januari 2010
Diskusi Interaktif Dua Master Fisika, Newton VS Einstein

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata relativitas? Mungkin beberapa dari kita akan menjawab, “Relativitas itu kan teorinya Einstein,” atau “relatif itu kan gerak suatu benda yang relatif terhadap tinjauan pengamat” *ah, terlalu berat untuk dibahas di blog ini*. Yang jelas, menurut saya, teori relativitas itu terdengar keren. Lihat saja dari bahasanya “Relativitas” terdengar sulit, ilmiah, dan asing. Begitulah menurut saya ketika masih SMP.

Kembali ke pokok permasalahan, sekarang saya akan menghadirkan diskusi interaktif antarpakar Fisika terkenal dari masa lalu, Sir Isaac Newton dan Albert Einstein. Bagaimanakah pendapat mereka berdua tentang relativitas?



Newton:
"Jika ada sebuah kereta api melaju dengan kecepatan 100 km/jam ke arah barat, kemudian di dalam kereta api ada si A yang berjalan dengan kecepatan 20km/jam ke arah barat, maka menurut B yang diam di tanah, si A berjalan dengan kecepatan 120 km/jam ke arah barat."

Einstein:
"Kui salah, Ton! (baca: itu salah, Ton!) "
"Teorimu ki wes kuno. Kalau menurut teori saya, kecepatan relatif si B itu nilainya nggak akan tepat 120 km/jam, kurang dikit lah.. Soalnya, geraknya dipengaruhi oleh cahaya.
Rumusnya jadi Vab= Vk+Va/ 1+(Vk.Va/c^2)"

Newton:
"Kok bisa? Aku nggak percaya! Teoriku itu benar, aku ki le mikir wes nganti mejen-mejen!"

Einstein:
"We… Ngeyel, kalo nggak percaya, sekarang coba si A yang berjalan di atas kereta diganti pakai cahaya. Jadi cahaya naik kereta. Coba berapa kecepatan relatif cahaya terhadap B yang diam di atas tanah?"

Newton:
"Lha iya B diam di atas tanah. Mosok melayang, teneh sudah mati!"

Einstein:
"Ahem, kita ini pakar fisikawan, fisikawan jenius! Eling, Ton!" (baca: ingat, Ton!)
"Tidak sepantasnya kita meributkan hal-hal sepele seperti itu."

Newton:
"Trims rekan Einstein."
"Kalau menurut teori saya, berarti kecepatan relatif si cahaya terhadap B adalah c +100km/jam."

Einstein:
"Salah kui Ton! Mosok ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya? Teneh nggak ada kecepatan mutlak noh?"
"Kecepatan cahaya itu mutlak, Ton! Tidak ada yang lebih cepat."

Wakhid:
"Ada yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, buroq! Kendaraan yang dipakai Nabi Muhammad SAW saat isra’ mi’raj."

Einstein Newton:
"Siapa itu?"


Wakhid:
"Nabi Muhammad. Nabinya umat Islam."
"Waktu isra’mi’raj dia naik ke buraq sampai langit ke tujuh. Dalam satu malam, satu malam! Bayangkan coba. Langit yang masih ada galaksi, planet-planet, bintang, itu adalah langit pertama sampai ke tiga.
Padahal, waktu yang diperlukan cahaya matahari untuk sampai ke bumi aja kira-kira 6 menit. Padahal untuk pergi ke bintang terdekat saja butuh waktu 1 tahun, baru perginya lho. Berarti untuk lpergi ke langit ke tujuh kira-kira butuh waktu sekitar 7 tahun, dan 7 tahun lagi untuk pulanganya. Padahal Nabi Muhammad melakukannya dalam satu malam."

Newton:
"Omonganmu berbobot juga, anak muda."

Einstein:
"Yang jelas, saya nggak tahu buraq atau apapun itu."

Wakhid:
"Sungguh malang Anda tidak tahu tentang Buraq dan keajaibannya Pak Einstein. Semua itu ada di dalam Al Qur’an. Coba kalau Anda tahu keajaiban AL Qur’an, pasti Anda akan tercengang-cengang."

Newton:
"Siapa kamu?"

Wakhid:
"Anak SMA yang baru pulang sekolah dan kebetulan lewat. Permisi ya…"

Einstein:
"Walah. Baiklah, kita lanjutkan saja diskusi ini.. Sampai mana tadi?"
"Oh iya. Ton, sudah tak bilang. Nggak ada yang lebih cepat dari kecepatan cahaya! Jadi teori-ku lah yang benar."

Newton:
"Menurut saya, bisa saja kamu cuma ndobos, ngarang-ngarang rumus. Emang kamu pernah ngukur kecepatan cahaya yang naik kereta api? Emang kamu pernah naik cahaya?"

Einstein:
"Lha yo kita semua, para ilmuwan itu kan kerjanya memang cuma mereka-reka saja tho. Kita amati kejadian alam di sekitar kita, terus kita analisa, buat rumus, jadi!"

Newton:
"Na, tuh kan…"

Einstein:
"Tapi jangan salah… Teori-teori kita, rumus-rumus buatan kita, itu harus bisa dibuktikan. Kalau enggak, nggak bakal kepake. Iya tho?"

Newton:
"Hm…"

Einstein:
"Menurut pendapat saya, waktu itu bukan dimensi yang mutlak, waktu itu relatif."

Newton:
"Kok bisa?"

Einstein:
"Coba saja kamu ambil dua buah jam yang sama. Jam A diletakkan di bumi, jam yang ke2 diletakkan di roket atau pesawat jet yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Nanti pasti beda"

Newton:
"Jaman saya belum ada pesawat terbang, kalau balon udara mah ada…"
"Jadi maksud teorimu, semakin cepat kita bergerak semakin lambat waktu berjalan?"

Einstein:
"Yo’a. Tepat sekali!"
"Jadi kalau misalnya ada dua anak kembar, misalnya Upin dan Ipin… "

Newton:
"Oh, film Malaysia yang di TPI itu ya?"

Einstein:
"Wah, kamu Anda penggemarnya juga thoh? Saya nonton setiap sore lhoh:D
Baiklah, kembali ke topic."
"Nah, Kalau si Upin ini pergi naik roket ke luar angkasa dengan kecepatan yang medekati kecepatan cahaya, saat dia kembali ke bumi, dia akan lebih muda dari Ipin."

Newton:
"Oh, jadi gitu ya menurutmu. Aku belum nyoba main-main dan mereka-reka cahaya sih…
Ahem."
"Ternyata teori relativitas saya memang cuma berlaku untuk kecapatan-kecepatan yang kecil saja. Nggak berlalu untuk kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya."
"Selamat deh, Tein! Kamu memang Bapak Fisika Modern."

Einstein:
"Enak saja. Nama anak saya bukan Fisika Modern."
"Oh iya, Ton. Berarti kamu juga adalah Bapak Fisika Klasik."

Newton:
"Iya" *tersenyum bangga*
(karena menurut Newton, kata “klasik” terdengar keren di telinganya. Belum tahu dia, kalau klasik=kuno=jadul)

Yah, itu tadi sepintas diskusi interaktif antara Newton dan Einstein. Semoga para pembaca bisa memetik hikmahnya bahwa masih banyak misteri alam ini yang belum bisa disibak oleh manusia. Dan tentu saja, teori-teori terdahulu belum mutlak benar, bisa saja masih ada kompopnen-komponen yang salah. Jadi masih ada peluang bagi kita untuk membenarkan teori itu.

PS:
Cerita di atas hanya karangan semata yang diadaptasi dari pelajaran Fisika di kelas.

SMA N 1 Bantul, 12 Januari 2009,
Saat-saat menegangkan sebelum penentuan akhir.

6 komentar:

TAHUSUSUR mengatakan...

AWAS. iso dijaluki pertanggungjawaban lho.

saiki newton @ einstein lagi neng jejerku, haruwotoyoh kowe..

:)

kutupa mengatakan...

lhoh, kan dah ditulis nerk cerita ini hanya karangan dan fiksi belaka:P

Wek...

kutupa mengatakan...

mesakake, di blog ini sek komentar cuma dikit
T.T

Nang milis akeh je...
:D

poni mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
pinta mengatakan...

ngakak je aku lg sempet moco.

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

hahahah :p
ceritane guru SMA ku kui. dengan sedikit penggubahan

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^