Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Jumat, 19 April 2013

Geblek, Makanan Tradisional yang Membudaya

Jumat, 19 April 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Makanan biasa dijadikan sebagai ikon suatu daerah. Ketika berwisata, makanan tersebut akan dicari untuk dijadikan sebagai buah tangan. Namun, pernahkah menemui makanan tradisional yang melegenda hingga membudaya sebagai motif pakaian khas? Di daerah saya, ada. Kali ini saya akan membahas kudapan yang melegenda tersebut. 

Saat itu, saya berada dalam perjalanan dari Stasiun Wates menuju rumah saya. Dalam kondisi lelah seusai menempuh perjalanan panjang Jakarta—Jogja, adik saya yang masih SD mengajak saya mengobrol.

“Mbak, tahu tentang geblek renteng?”
“Geblek yang dideret-deretkan?” saya menjawab asal.
“Tahu cerita asal muasal geblek renteng?”

Saya menggeleng perlahan. Berbulan-bulan di perantauan membuat saya kurang update mengenai perkembangan di daerah saya. Dan kemudian mengalirlah kisah geblek renteng dari bibir adik saya.
*****
Adalah Kulon Progo
—kebupaten tempat tinggal saya, sebuah kabupaten kecil yang berada di bagian barat wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta sendiri terdiri dari empat kabupaten dan satu kotamadya. Memang, Kulon Progo hanyalah sebuah kabupaten kecil yang namanya tidak setenar Kota Jogja, Kabupaten Sleman, Bantul, maupun Gunung Kidul. Meski demikian, sebenarnya Kulon Progo menyimpan sejuta pesona yang dapat diasah dan dikembangkan.

Ketika ditanya, “apa makanan khas kabupaten Kulon Progo?”

Sontak, semua orang akan menjawab growol. Makanan yang terbuat dari ketela tersebut  biasa dijadikan sebagai makanan pokok di beberapa wilayah Kulon Progo. Growol sebagai makanan khas Kulon Progo juga telah ditanamkan dalam pelajaran-pelajaran sosial sejak semasa SD.

Masih teringat jelas di benak saya ketika guru memberi kami tebak-tebakan mengenai makanan khas dan tempat wisata setiap kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Apa makanan khas Gunung Kidul?
Gaplek

Makanan khas bantul?
Geplak

Makanan khas Kulon Progo?
Growol

Namun, selain growol Kulon Progo memiliki kudapan khas lain, yakni geblek. Camilan berasa gurih ini terbuat dari  tepung tapioka basah atau singkong. Rasanya? Kenyal, gurih, dan dapat memanjakan lidah. Jujur, saya lebih menyukai rasa geblek dibanding growol. Bahkan geblek menjadi salah satu gorengan favorit saya.

Geblek
Geblek mempunyai bentuk yang unik yakni berupa rangkaian angka delapan dengan warna yang berwarna putih bersih.  Bentuknya sendiri berbeda-beda sesuai dengan penjualnya. Ada yang berupa satu bulatan, berbentuk angka delapan, dsb. 

Di dekat rumah saya, biasanya berupa tiga buah angka delapan yang berjajar. Bentuk dan warnanya yang sedemikian rupa membuat geblek menarik dan menggoda selera. Geblek akan terasa lebih nikmat jika disantap hangat-hangat, apalagi ketika cuaca dingin.



Di Kulon Progo, Geblek biasa dinikmati bersama  tempe benguk yang juga merupakan makanan khas setempat. Jika Geblek akan dijadikan oleh-oleh, biasanya dibeli dengan wujud mentah dan dapat  digoreng ketika akan dinikmati. Tentu saja rasanya akan terasa nikmat jika dinikmati selagi hangat. Geblek mentah dapat bertahan sekitar 4 hari. Dalam kurun waktu tersebut, geblek harus segera digoreng. Jika tidak, maka adonan Geblek akan menjadi keras dan mengurangi kelezatannya setelah digoreng.

Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk dapat menikmati gorengan gurih ini. Saya biasa membeli geblek di dekat rumah saya seharga 500 per biji.

Kisah geblek renteng bermula ketika pemerintah Kulon Progo mengadakan lomba desain batik. Dalam kompetisi tersebut, Ales Candra Wibawa, seorang siswa SMA N 1 Wates mempersembahkan sebuah desain motif batik yang terinspirasi dari geblek.

Motig Geblek Renteng
Meski sebenarnya geblek bukan merupakan makanan elit, Candra berhasil mengkreasikan  bentuk geblek menjadi desain batik yang elegan. Motif batik karyanya itu dinamai Geblek Renteng. Candra menjadi pemenang dan berhasil membawa pulang hadiah sebesar 15 juta rupiah.


Motif Geblek Renteng tersebut kemudian dinobatkan sebagai ikon batik Kulon Progo. Bahkan, Hasto Wardoyo, Bupati Kulon Progo mewajibkan siswa sekolah dan PNS untuk mengenakan pakaian batik dengan motif geblegkrenteng ini. Untuk melindungi hak cipta Geblek Renteng, motif ini telah didaftarkan di Kemenhum dan HAM DIY  sehingga memperoleh sertifikat HAKI.

Dan sejak saat itulah geblek renteng, yang asalnya dari geblek, menjadi ikon daerah saya :D

Berangkat dari kompetisi desain batik tersebut, pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah berhasil menggiatkan potensi lokal Kulon Progo. Kini, geblek menjadi camilan kenamaan Kulon Progo. Saat orang-orang berwisata ke Kulon Progo, pasti mereka akan penasaran dengan geblek. Seperti apa sih bentuknya, sampai-sampai dijadikan motif batik?

motif geblek renteng
Tak hanya pedagang geblek, para pengrajin batik pun turut menikmati peningkatan penghasilan karena membludaknya order kain motif geblek renteng. Yang saya kagumi, bupati Kulon Progo memutuskan bahwa batik yang beredar harus batik tulis yang merupakan karya pengrajin batik lokal.

****

Mendengar kisah adik, saya hanya berdecak kagum. Awalnya sih, adik saya hanya ingin memamerkan motif batik barunya.

Ada rasa haru dan bangga dengan kreasi siswa lokal. Saya sendiri pun tak menyangka, berawal dari geblegkyang sederhana, dapat dijadikan motif batik yang menggiatkan kerajinan batik lokal.  J

1 komentar:

Mohammad Ridho Nur Hidayat mengatakan...

Kakak kelas saya itu mas Ales Candra :D hehehe

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^