Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure
Tampilkan postingan dengan label paccarita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paccarita. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

Segores Kisah Cinta Pertama

Senin, 06 Mei 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima yang bertema cinta pertama.

Membaca tema minggu kelima ini, seketika hati saya meretas. Cinta pertama. Ah, padahal baru beberapa hari lalu saya mendapat kabar bahwa seseorang yang dulu saya sukai kini telah bersanding dengan orang lain.

Pedih? Tidak juga. Yah, beberapa orang mengatakan bahwa kami berdua sangat mirip dengan dua tokoh utama dalam Perahu Kertas karya Dee: Kugy dan Keenan. Saya kecil, cengengesan, blak-blakan, kadang kucel, dan suka menulis. Dia seniman sejati, piawai dan jago dalam menggambar. Kami sama-sama menyukai seni, namun dalam bentuk berbeda.

Bukankah pedih rasanya mengenang kisah itu? Tidak juga. Karena ternyata,
Klik untuk membaca lanjutannya

1 komentar

Sabtu, 04 Mei 2013

Anak Langit

Sabtu, 04 Mei 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.


Kenapa langit warnanya biru?
Kemaren kan udah dijelaskan, Pak.
Jawab saja.
Cahaya itu gelombang. Merah, Kuning, Orange itu gelombang panjang. Biru itu gelombang pendek. Sedangkan atmosfer itu satu frekuensi dengan gelombang pendek terutama warna biru.  Jadi, atmosfer menahan dan menghamburkan warna biru itu di langit. Itu mengapa langit warnanya biru, Pak.
-Penggalan percakapan dalam film Habibie Ainun-

*****
Suatu ketika, pernah terbesit dalam benakku, mungkin aku adalah anak langit. Rasaku bergantung pada langit, dan langit menyayangiku dengan warna-warnanya. 

Ketika resah tiba-tiba datang berkunjung, aku hanya perlu memandang langit. Lantas ia akan memberiku sebuah senyum yang berwarna biru. Dan seketika, bum! Warna kelabu yang sebelumnya menyelimuti hatiku, hilang begitu saja.

Aku betah duduk bermenit-menit, bahkan berjam-jam hanya untuk memandangi langit. Aku tak peduli ketika leherku teleh merasa pegal dan cengang karena terlalu lama mendongak. Mungkin, jika tak mempunyai kewajiban lain di dunia ini, aku bisa saja duduk berhari-hari atau berbulan-bulan untuk memandang langit.

Mungkin aku adalah anak langit.

Karena ketika
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar