Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Sabtu, 18 Mei 2013

Bahtera, Tak Selamanya Berlayar Sempurna

Sabtu, 18 Mei 2013

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam, yang bertema "Dua Sisi"

Kemarin, sembari makan dan mengobrol di warung bakso bersama teman-teman sekelas, saya membaca sebuah berita. Isinya tentang masalah keluarga seorang aktris wanita yang juga merupakan anggota DPR berinisial perbulan ia hanya diberi 20 juta, sedang 20 juta sisanya untuk keperluan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

Miris? Iya. Hanya karena uang kecantikan, bahtera rumah tangga yang telah mereka bangun selama 17 tahun mudah saja luluh lantak seketika. Sayang, bukan karena badai topan tetapi hanya karena masalah sepele: uang kecantikan.

Semudah itukah?
Bagaimana dengan hidup yang telah dijalani bersama selama tujuh belas tahun? Bagaimana dengan anak-anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan bersama? Semudah itukah? Yah, mungkin masalah mereka tidak hanya sekadar uang kecantikan sebesat empat puluh juta. Mungkin juga ada beberapa masalah lain yang kurang pantas bila dikuak oleh media.

Ada sebuah modal dasar yang wajib dimiliki setiap rumah tangga. Modal tersebut bernama cinta.

Tanpa uang, mungkin sepasang kekasih masih dapat hidup berumah tangga bersama dan saling bahu membahu dengan penuh kasih sayang. Namun tanpa cinta, semegah apapun rumah yang dibangun, tak akan ada kebahagiaan di dalamnya. Hanya ada rasa dingin yang hampa, yang kian hari kian ganas memangsa rasa bahagia.

Sayang, modal yang bernama cinta itu sama seperti perasaan yang lain. Ia tidak dicipta bertameng imortalitas, ia labil, dan tidak memiliki wujud abadi. Cinta dapat datang kapan saja tanpa pertanda. Ia laksana hujan yang turun dari langit, melimpah, menyejukkan, dan membawa butiran kebahagiaan yang menggelitik perut. Namun di waktu lain, cinta bisa saja tiba-tiba meghilang. Ia seperti genangan air yang terkena sengatan matahari: menguap lantas menghilang tanpa bekas.

Namun jika benar cinta seperti air, maka setelah menguap seharusnya ia akan turun lagi sebagai hujan. Ia kembali lahir sebagai hujan yang masih membawa partikel yang sama. Setelah cinta mati, ia akan terlahir kembali dalam wujud yang baru namun masih membawa jiwa yang sama. Ya, jika memang cinta seperti air.

Begitu pula dalam rumah tangga. Ada kalanya rasa cinta itu begitu menggebu bagai beribu titik hujan di Bulan Desember. Namun ada kalanya rasa cinta itu menguap tak berbekas bagai air laut yang pergi hanya menyisakan garam. Saya yakin, setiap pasangan pasti pernah mengalami fluktuasi cinta. Bukan hanya ayah ibu saya, tapi juga ayah ibunya, ataupun ayah ibu siapa saja.

Dulu saya merasa beruntung memiliki keluarga yang utuh: saya, adik-adik, dan orang tua yang masih tinggal bersama. Setiap saya bermain ke rumah teman saya, meski bahagia, saya juga sedih melihat keluarga mereka tak lagi utuh seperti dulu. Terkadang ada rasa haru melihat si kawan menulis puisi-pusi kerinduan akan kehadiran ayahnya. Namun, terkadang hati ini juga nelangsa melihat ia merutuki ayahnya yang pergi menikah lagi dengan wanita lain.

Menginjak SMA, saya masih merasa beruntung. Saya memiliki seorang teman dekat. Ayah dan Ibunya sangat sibuk, kerap ia sendiri di rumah, tanpa hangatnya masakan ibu, dan tanpa keriangan tawa seorang ibu. Hanya beberapa kali saja saya berjumpa dengan ibu kawan saya itu. Saya merasa beruntung memiliki ayah dan ibu yang selalu meluangkan waktu untuk keluarganya. Saya merasa beruntung dapat merasakan nikmatnya masakan ibu setiap hari, setiap pagi menjelang berangkat sekolah.

Namun kini, semua berbeda. Saya merasa iri ketika melihat ayah dan ibu salah seorang teman saya yang lain. Ayah Ibunya selalu pergi bersama, berdua, kemana-mana, apapun urusannya. Mereka seolah satu jiwa dalam dua tubuh berbeda. Bahkan jarak yang tak seberapa dapat membuat mata tak dapat terlelap karena rasa rindu yang menggelayut.

Kini saya merasa nelangsa. Sepertinya rasa cinta itu, antara Ayah dan Ibu saya tidak sekental dulu. Ada curiga, tanya, dan prasangka. Entah mengapa. Yah, kata orang begitulah hidup, ada kalanya pasang dan ada kalanya surut.

Seperti kata Tere Liye,
ketika kita menyukai seseorang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya. Ada masa-masa rasa suka itu berkurang, bahkan hilang sama sekali. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi, maka selesai begitu saja. Itulah gunanya komitmen, kepercayaan, yang akan membawa kembali perasaan suka persis seperti pertama kali dulu kenapa kita suka seseorang tersebut, atau malah lebih.

Jadi ketika sebuah hubungan sedang memasuki fase menguap, maka yang perlu dilakukan adalah mengusahakan turunnya hujan. Mengapa? Agar seperti kata Tere Liye: membawa kembali perasaan suka itu, persis seperti pertama kali. Yang perlu dilakukan adalah mengusahakan terlahirnya kembali perasaan yang bernama cinta itu.

Meski belum pernah merasakannya, saya tahu, kehidupan rumah tangga tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Kehidupan rumah tangga tak selalu semanis muda mudi yang sedang kasmaran. Kehidupan rumah tangga juga tak sekonstan gerak benda di ruang hampa. Selalu ada gesekan dan hambatan yang tiba-tiba menghadang.

Bahtera rumah tangga, tak selamanya berlayar sempurna. Rumah tangga, tak selamanya diliputi oleh cinta. Ada kalanya, juga ada petaka atau nestapa.

2 komentar:

Santi Dewi mengatakan...

Merawat cinta memang sulit, tidak seperti mendapatkannya, harus ada pengorbanan

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

iya, bener banget U_U

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^