Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Kamis, 30 Mei 2013

OGB: Kualitas Tetap Memukau, Harga Lebih Terjangkau

Kamis, 30 Mei 2013
Saat ini taraf kesehatan masyarakat Indonesia masih rendah. Hal tersebut dinyatakan oleh James Riandy, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Indutri (Kadin) Indonesia bidang pendidikan dan kesehatan sebagaimana dilansir dari laman Republika Online (29/05/13).


Fasilitas Kesehatan Masih Mahal?
 Fasilitas kesehatan super canggih memang telah tersedia di beberapa rumah sakit besar di Indonesia. Namun karena biaya yang mahal, fasilitas tersebut hanya dapat diakses oleh sebagian kecil masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Realita tersebut membuktikan bahwa terjadi kesenjangan status kesehatan antartingkat sosial ekonomi masyarakat Indonesia.

Apakah kesehatan hanya menjadi hak masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi menegah ke atas? Padahal masih banyak penduduk miskin di Indoneisa. Pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah 29,13 juta jiwa.

Sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, kesehatan merupakan hak setiap warga negara. Hal tersebut termaktub dalam pasal 28H serta pasal 34 ayat (3) yang berbunyi, “negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”. Salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang layak sebagaimana amanat konstitusi adalah melalui  program OGB yang diluncurkan pada tahun 1989.

Program OGB atau Obat Generik Berlogo adalah salah satu program Kementerian Kesehatan yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indoneisa melalui jaminan ketersediaan obat berkualitas dan harga terjangkau bagi masyarakat. Regulasi menegnai OGB lebih lanjut ditungkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan NO. HK.0301/Menkes/146/I/2010 yang memuat harga obat generik terbaru.

Namun sayang, OGB yang dicanangkan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat malah kerap dipandang sebelah mata. Karena harganya yang lebih murah beberapa kali lipat dibanding obat bermerk, OGB kerap dianggap sebagai obat yang kurang manjur. Bahkan, beberapa kalangan masyarakat menganggap bahwa OGB diperuntukkan untuk masyarakat yang kurang mampu.




Realita Anggapan Masyarakat terhadap OGB
"Obatnya pakai obat generik saja ya, Bu?“ saran seorang dokter sembari menulis resep obat. 

"Ah, saya tidak mau mengosumsi obat generik, lebih baik obat bermerk saja walaupun lebih mahal. Biar cepat sembuh. Obat bermerk kan kualitas dan keampuhannya lebih terjamin. Ana rega, ana rupa.

Realita tersebut kerap kali kita temui di masyarakat. Meski telah dipasarkan lebih dari 15 tahun, masih banyak kalangan masyarakat yang kurang percaya pada khasiat OGB.

Salah satu pepatah Jawa mengatakan, ana rega ana rupa. Pepatah tersebut berarti kualitas suatu barang ditentukan oleh harganya, semakin mahal harga suatu produk, maka semakin baik kualitasnya. Karena pepatah tersebut, harga OGB yang murah malah kerap menjadi bumerang. Karena harganya yang murah, OGB sering dianggap kurang berkualitas dan kurang ampuh. Karena harganya yang murah juga, OGB sering dianggap sebagai obat kelas dua untuk masyarakat kurang mampu.

Benarkah keampuhan OGB di bawah obat bermerk? Benarkah kualitas OGB dipertanyaan karena harganya yang murah? Benarkah OGB merupakan obat kelas dua?

Sekilas Tentang OGB
Obat-obatan yang yang dipasarkan di apotek maupun rumah sakit umumnya dikatagorikan menjadi dua, yakni obat paten dan obat generik. Obat generik sendiri terdisi dari dua jenis yakni obat generik berlogo atau yang sering disebut sebagai OGB dan obat generik bermerk dagang.

Jenis pertama, yakni obat paten adalah obat yang masih berada dalam masa paten. Di Indonesia, masa paten suatu obat baru adalah selama 20 tahun. Pada masa paten tersebut, obat tidak boleh ditiru atau diproduksi oleh perusahaan farmasi lain. Perusahaan yang memroduksinya harus membayar royalti kepada pemilik paten obat. Salah satu alasan mengapa obat paten lebih mahal adalah karena perlunya biaya tinggi untuk penelitian dan riset obat baru.

Jenis kedua, yakni obat Generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yakni obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo. Pada obat bermerk dagang, kandungan zat aktif pada obat itu diberi nama (merek) sesuai keingin pabrik pembuat obat. Pembeda signifikan antara dua jenis obat generik tersebut adalah harga dan kemasan.

Logo OGB
OGB sangat mudah dikenali. Ciri khas OGB adalah dari logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di bagian tengah lingkaran. Logo tersebut menunjukan bahwa obat generik berlogo yang bersangkutam telah lulus uji kualitas, khasiat, dan keamanan. Sedang garis-garis putih menunjukkan filosofi kasamaraatan, yakni bahwa OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.


Kandungan, Proses, dan Kualitas OGB, Sama dengan Obat Paten
Baik obat paten, OGB, maupun obat bermerk dagang memiliki kandungan zat aktif yang sama. Proses pembuatan dan produksi obat generik pun sama dengan cara pembuatan obat paten.

Dalam pembuatan obat generik, perusahaan pembuat obat generik harus menyesuaikan formula yang akan dibuat dengan formula inventor (penemu) obat paten.  Dalam proses penyesuaian tersebut juga dilakukan uji biokivalen agar efek obat sama dengan produk inventor. Biaya uji biokivalen tergolong tidak kecil, yakni antara 400 hingga 500 juta per item.

Dengan kandungan dan proses pembuatan yang sama, obat generik memiliki keampuhan yang sama dengan obat paten. Namun, obat generik berlogo lebih murah karena mendapat subsisdi pemerintah dan diproduksi secara massal dengan tingkat efisiensi yang tinggi.

Lantas, bagaimana dengan kualitas OGB? Samakah dengan obat paten dan obat bermerk?

Meski harganya relatif terjangkau, bukan berarti semua perusahaan farmasi lantas boleh memproduksi OGB. Terdapat beberapa macam standardisasi agar sebuah perusahaan farmasi atau produsen obat diakui oleh industri farmasi. Standar tersebut antara lain dimilikinya sertifikat COA dan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) oleh suatu produsen obat. 

OGB hanya boleh diproduksi oleh perusahaan farmasi yang memiliki sertifikat (CPOB). Karena itu, kualitasnya OGB ini terjamin karena mendapat jaminan dari pemerintah. Serupa dengan obat paten, OGB juga memiliki standarisasi tinggi yakni dengan bioavailabilitas harus persis sama dengan obat paten maupun bermerek.

Dengan adanya satndar-standar tersebut, dapat dipastikan bahwa kualitas OGB tidak kalah dengan obat paten maupun obat bermerk. Baik OGB maupun obat bermerk dapat menyembuhkan penyakit dengan kecepatan penyembuhan setara, jika diberikan dalam dosis serta jangka waktu interval yang sama.


Rahasia di Balik Harga Ekonomis OGB
Dengan kandungan, proses, dan keampuhanyang sama, mengapa OGB lebih murah? Bukankah sewajarnya kualitas dan kandungan yang sama akan menyebabkan harga yang juga sama?

Obat Bermerk Lebih Mahal dari OGB

Alasan utama mengapa OGB memiliki harga yang murah adalah karena harga OGB  diatur oleh regulasi pemerintah. Regulasi tersebut bertujuan  agar obat dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.  Akibat regulasi tersebut, produsen obat generik tidak dapat menentukan harga pasaran obat semau sendiri.

Pada obat bermerek, tidak ada ketetapan ceiling price (harga tertinggi) oleh pemerintah. Produsen obat lebih leluasa menetapkan harga sesuai dengan biaya produksi, biaya pemasaran, dan keuntungan yang diinginkan.

Faktor pembeda harga antara OGB dan obat bemerk terutama disebabkan oleh biaya pemasaran dan penyajian kemasan. OGB memiliki kemasan yang lebih sederhana dibanding obat bemerk sehingga biaya produksi lebih murah. Selain itu, biaya pemasaran OGB ditanggung oleh subsidi pemerintah, berbeda dengan obat bemerk yang biaya pemasarannya dibebankan pada konsumen. Itulah mengapa harga OGB lebih murah.

Dengan kualitas dan kekuatan penyembuhan yang sama, lebih baik pilih OGB. Kualitas tetap memukau, harga lebih terjangkau.





Karya tulis ini dibuat dalam rangka Sosialisasi Obat Generik Berlogo oleh Dexa Medica.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^