Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Jumat, 17 Mei 2013

Ketidakpastian Dalam Kepastian

Jumat, 17 Mei 2013

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam dengan tema dua sisi.

Dalam setiap detil aspek kehidupan, semua orang pasti menginginkan kepastian. Siapa mau terus menerus dirundung kegelisahan, kebingungan, dan tanda tanya karena ketidakpastian? Siapa mau, terus menerus menerung dalam kemelut memikirkan probabilitas yang akan terjadi diantara berjuta kemungkinan? Siapa yang mau, berlama-lama diam tak dapat melakukan hal lain karena dirundung ketidak pastian?

Dalam pekerjaan misalnya, tidak ada yang mau berlama-lama digantung status pegawai tetapnya oleh perusahaan. Semua orang pasti menginginkan kepastian status pegawai secepat mungkin. Apalagi jika pengabdian yang dilakukan sudah bertahun-tahun. Dalam berpacaran misalnya, tidak ada yang mau berlama-lama digantung hubungannya oleh seseorang. Semua orang pasti menginginkan kepastian akan sebuah hubungan, apalagi jika sudah lama PDKT namun tak kunjung jadian, atau sudah lama pacaran namun tak kunjung melangkah ke pelaminan.


“Kuliah di mana?”
“STAN”
“Oh, enak ya... Lulus langsung kerja,”

Dan saya biasanya hanya menjawab pernyataan semacam itu dengan sebuah senyuman, senyuman penuh misteri *halah. Ah, benarkah enak? 

Mungkin secara sepintas, STAN tampak menjanjikan segala kemudahan. Ia bagai bintang yang dapat memenuhi keinginan para orang tua juga para lulusan SMA: kuliah gratis, tiga tahun lulus, langsung bekerja, dan menjadi PNS. Lagi, bukan sembarang pegawai negeri, tapi pegawai negeri di Kementerian Keuangan.

Sepintas, berkuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, segala sesuatu tampak menggiurkan dan penuh kepastian. Siapa tidak ingin, lulus langsung kerja dengan gaji yang lumayan? Padahal, dalam segala kepastian masa depan yang dijanjikan—entah itu janji manis atau hanya sekadar janji palsu—terdapat ketidakpastian yang terus mendera kami. Dari semester awal hingga semester akhir, ketidakpastian itu kian besar bagai awan hitam yang melingkupi hati kami, atau paling tidak hati saya.

Ada banyak hantu di kampus ini. Hantu apa saja? Yang jelas bukan kunti, genderuwo, pocong atau sundel bolong. Yah, walaupun beberapa diantara mereka juga ada di sini.

Hantu pertama adalah hantu DO, alias drop out. Kalau di kampus lain, mungkin beberapa nilai D atau E tidak akan mungkin dapat merenggut paksa eksistensi seseorang. Satu atau beberapa nilai D dan E masih dapat diampuni karena masih ada semester pendek atau semester depan untuk mengulang. Tapi di kampus saya? Nilai D atau E adalah sebuah siksa. Dua buah nilai D, atau cukup satu buah nilai E dapat mengandaskan segala peluh perjuangan pada semester-semester lalu. Tidak ada pengulangan, tidak ada semester pendek, tidak ada kesempatan kedua di semester depan. IPK minimal 2,75.

Jadilah setiap liburan pasca UAS, hati saya dan teman-teman yang lain dirundung kegelisahan karena ketidakpastian: akankah semester ini kami selamat? Akankah semester ini ada anggota keluarga kami yang terpaksa gugur?

Sebenarnya hanya ada satu hantu ketidakpastian yang paling menakutkan, si hantu DO tadi. Namun entah mengapa, seiring dengan pergerakan birokrasi—yang entah lebih baik atau malah lebih bobrok—kini muncul sosok hantu yang lain.

Jika orang lain mengatakan lulusan STAN pasti langsung magang dan diangkat, itu memang benar. Dulu. Ya, dulu. 

Sudah beberapa tahun ini terdapat ketidakpastian dalam pengangkatan. Jika dulu bisanya setelah lulus langsung magang dan beberapa bulan kemudian langsung diangat menjadi PNS yang memiliki kemampuan handal di bidang keuangan, dua tahun ini lulusan STAN harus menunggu waktu cukup lama. Bahkan, angkatan 2010 harus menunggu dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan tanpa kabar sama sekali. Sama sekali. Mereka seolah dilepas dan dibebaskan, namun tetap dipegang ekornya agar tidak kemana-mana.
Alasannya? Moratorium pegawai.

Membengkaknya belanja pegawai membuat postur APBN membuncit menggendut. Belanja pegawai inilah yang dituduh sebagai biang terus meningkatnya APBN Indonesia namun tidak dibarengi dengan pembangunan fisik yang memadai. Seharusnya, dengan anggaran yang semakin besar, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga semakin baik. 

Kemenpan, ingin agar jumlah pegawai di semua kementerian disamakan. Katanya, agar belanja pegawai tidak membengkak. Eitss, tunggu dulu. Anak SMA saja tahu kalau keadilan tidak harus berarti sama. Setiap kementerian memiliki kinerja dan tugas yang berbeda-beda, tentu saja kebutuhan pegawai juga berbeda-beda. Bagaimana mungkin jumlahnya disamakan? -___-

Nah itu tadi ketidakpastian yang ada di kampus saya, sekolah kedinasan yang notabenya dinobatkan penuh kepastian. Memang, di dunia ini tidak ada suatu sifat pun yang tercipta mutlak. Seperti yin dan yang. Meski mereka adalah dua unsur berbeda, namun perpaduan keduanya meciptakan keseimbagan. Selalu ada yin di dalam yang, dan selalu ada yang di dalam yin. Begitu pula kehidupan ini, selalu ada ketidakpastian sekalipun berada pada lingkungan yang penuh kepastian.

2 komentar:

Santi Dewi mengatakan...

Segala sesuatu yang enak, yang baik, pasti ada konsekwensi yg besar di belakangnya.

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

iya, begitu juga dengan kuliah saya hufft

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^