Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Sabtu, 20 April 2013

Yang Unik dari Kota Gudeg

Sabtu, 20 April 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua, yang bertajuk Local Taste.

Kali ini saya akan membahas mengenai mahanan unik yang berasal dari Kota Gudeg, Jogja. Selama ini kota Jogja khas dengan bakpia dan gudegnya. Padahal, masih banyak kuliner lain yang, menurut saya, sangat unik dan kreatif. Namun, sebelumnya, mari kita mengingat kembali tentang gudeg dan bakpia.

Jika biasanya sayur mempunyai rasa yang gurih atau segar, maka lain halnya dengan gudeg. Sayur ini memiliki rasa yang manis! Berasal dari Wijilan, sebuah kampung yang terletak di Timur Alun-Alun Yogyakarta, sayur ini terbuat dari gori (nangka muda). Gudeg biasa dinikmati bersama endog abang (telur merah) dan krecek. 
Gudeg Jogja
Selain gudeg, nama bakpia telah melegenda sebagai makanan khas Jogja. Bakpia sendiri adalah kue berisi kacang hijau, dapat berupa kue basah maupun kering. Bakpia berasal dari daerah Pathuk, Jogja, oleh karena itu, yang paling tersohor adalah Bakpia Pathuk.
Bakpia Pathuk
Menyoal Local taste Jogja,  sepertinya manis merupakan penggambaran yang tepat.

Mengapa?
Klik untuk membaca lanjutannya

3 komentar

Jumat, 19 April 2013

Geblek, Makanan Tradisional yang Membudaya

Jumat, 19 April 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Makanan biasa dijadikan sebagai ikon suatu daerah. Ketika berwisata, makanan tersebut akan dicari untuk dijadikan sebagai buah tangan. Namun, pernahkah menemui makanan tradisional yang melegenda hingga membudaya sebagai motif pakaian khas? Di daerah saya, ada. Kali ini saya akan membahas kudapan yang melegenda tersebut. 

Saat itu, saya berada dalam perjalanan dari Stasiun Wates menuju rumah saya. Dalam kondisi lelah seusai menempuh perjalanan panjang Jakarta—Jogja, adik saya yang masih SD mengajak saya mengobrol.

“Mbak, tahu tentang geblek renteng?”
“Geblek yang dideret-deretkan?” saya menjawab asal.
“Tahu cerita asal muasal geblek renteng?”

Saya menggeleng perlahan. Berbulan-bulan di perantauan membuat saya kurang update mengenai perkembangan di daerah saya. Dan kemudian mengalirlah kisah geblek renteng dari bibir adik saya.
*****
Adalah Kulon Progo
Klik untuk membaca lanjutannya

1 komentar

Kamis, 18 April 2013

SAUNG ANGKLUNG UDJO, RUMAH BUDAYA PASUNDAN

Kamis, 18 April 2013
Laporan Perjalanan
Oleh: Muamaroh Husnantiya



Adalah Saung Angklung Udjo, sebuah sanggar seni yang berlokasi di Jalan Padasuka 118 Bandung. Saung ini merupakan sebuah sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni, laboratorium pendidikan, sekaligus objek wisata khas Jawa Barat. Uniknya, saung yang diprakarsai oleh Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati ini memberdayakan masyarakat sekitar.

Beruntung saya dan mahasiswa Program Diploma III Kebendaharaan diberi kesempatan mengunjungi Saung ini dalam acara Studi lapangan yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Anggaran dan didukung oleh pihak sekretariat STAN.

Senin (15/04/13) sore itu, tepatnya pukul 17.45, rombongan kami tiba di SaungAngklung Udjo. Tak disangka, suasana sejuk dan nyaman menyambut kami. SaungAngklung Udjo dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, dari kerajinan bambu dan interior bambu sampai alat musik bambu. Mungkin, nuansa bambu itulah yang memanjakan mata kami, sangat berbeda dengan nuansa perkotaan yang padat akan gedung-gedung beton pencakar langit.

Selain tempat pertunjukan, Saung Angklung Udjo juga menyediakan
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Minggu, 14 April 2013

Secercah Harapan di Kebun Belakang

Minggu, 14 April 2013
Tulisan ini diikutkan pada #8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. 

Tulisan ini saya buat untuk mengabadikan kenangan, sekaligus mencatat perubahan yang terjadi di lingkungan saya. 


Dulu lahan di belakang rumah saya itu hanyalah sebuah kebun tak terawat. Jati, pisang, randu berdesakan, berlomba menjulang untuk menggapai sang langit. Dulu ada dedaunan kering dan biji-bijian yang seperti menunggu untuk disemai, berserakan bergumulan menyelimuti. Dulu hanya riuh rendah kicau beburungan. Terkadang induk ayam melintas, menuntun anak-anaknya sembari mematuk pangan. Sedang si jantan mengawasi dari kejauhan sembari menggoda ayam betina lain. Tupai terkadang melompat tiba-tiba, mengagetkan, meriuhkan suasana. Rimbun kebun belakang rumah itu jugalah yang memberi sebagian goresan pada kertas hidup saya, goresan indah. 

Teduh namun nampak gagah, masih jelas bagaimana kesan lahan belakang rumah tersebut di benak saya. Kemudian datang seseorang yang tiba-tiba datang mengubah segalanya. 

Seorang kakek tua yang datang dari pengelanaannya, setelah berpuluh tahun singgah di negeri orang dalam pengasingan. Beliaulah Hersri Setiawan,

Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Selasa, 09 April 2013

Impaksi, Bengkak pada Gusi Bagian belakang

Selasa, 09 April 2013
Entah mengapa, tiba-tiba gusi bagian belakang saya bengkak padahal saya tidak punya riwayat sakit gigi karena gigi berlubang. Pun gigi bungsu saya (pada bagian itu) juga belum tumbuh. Awalnya, saya mengira rasa sakit itu pertanda akan tumbuhnya si gigi bungsu. Nah, tiba-tiba saya menemukan seorang teman mengeshare artikel di Facebook dari laman ini. Penasarn, saya buka dan saya baca.... Saya yang parno pun jadi curiga, jangan-jangan bengkak pada gusi bagian belakang saya disebabkan oleh impaksi. *Oh nooo!!! Saya tidak mau dioperasi T_T*
Nah ini dia penjelasan lebih lanjut mengenai impaksi
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Jumat, 29 Maret 2013

Kenyamanan dalam Kereta VS Sumber Penghidupan

Jumat, 29 Maret 2013
Tujuan kebijakan PT KAI baru-baru ini adalah untuk meningkatkan kenyamanan pelayanan publik. Kebijakannya bertahap, mulai dari penghapusan sistem tiket tanpa tempat duduk di kereta api jarak jauh, sterilisasi stasiun, penghapusan KRL ekonomi, dan penghapusan kereta ekonomi jarak jauh. 

Dananya? Tentu tidak cuma sedikit, apalagi untuk sterilisasi.

Nantinya, tidak akan ada lagi KRL ekonomi dan kereta ekonomi jarak jauh. Semuanya akan diganti, minimal ekonomi AC. Padahal, tidak segelintir orang yang mengandalkan penghidupan dari kereta ekonomi. Pengamen, pedagang asongan, peminta-minta, penyapu, banci, penyemprot, bahkan para pegawai yang biasa pulang-pergi di akhir pekan untuk bertemu keluarga di kampung halaman. 


Tidak ada lagi pedagang di dalam kereta ekonomi jarak jauh.
Lantas, bagaimana kalau
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Selasa, 08 Januari 2013

Keengganan Menjadi Pejabat Pengadaan: Dilema Pemenuhan Indikator Pertumbuhan Nasional dan Kejerian akan Tuntutan Hukum

Selasa, 08 Januari 2013


Keengganan Menjadi Pejabat Pengadaan:
Dilema Pemenuhan Indikator Pertumbuhan Nasional dan Kejerian akan Tuntutan Hukum
Oleh: Muamaroh Husnantiya

Pendahuluan : Antara Pertumbuhan Ekonomi dan PBJ
Dalam teori makroekonomi, terdapat beberapa pendekatan dalam perhitungan pendapatan nasional, salah satunya adalah pendekatan pengeluaran yang menyatakan bahwa Y = C + I + G + (X - M). Makna teori tersebut, secara garis besar adalah pertumbuhan ekonomi bisa diciptakan lewat konsumsi (C), belanja pemerintah (G), investasi (I), dan net ekpor (X-M).

Unsur-unsur tersebut sekaligus menjadi indikator dalam menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Memang masih debatable, apakah indikator tersebut benar-benar mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya, namun sampai saat ini best practice masih menggunakan asumsi tersebut.
Faktor konsumsi dan belanja pemerintah menjadi titik tumpu dalam upaya peningkatan pertumbuhan nasional. Tentu saja karena dengan penduduk Indonesia yang berdasar hasil sensus terakhir di tahun 2010 jumlahnya mencapai 237.556.363 orang, tidak sulit untuk menigkatkan konsumsi.

Sari sisi belanja pemerintah, Indonesia memunyai APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang jumlahnya mencapai ribuan triliun. Pada tahun 2013 anggaran untuk belanja adalah 1683 triliun dengan rincian belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.154,4 triliun dan transfer ke daerah Rp 528,6 triliun. Untuk belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja pegawai Rp 241,1 triliun, belanja barang Rp 167 triliun, belanja modal sebesar Rp 216,1 triliun, pembayaran bunga utang sebesar Rp 113,2 triliun.

Seperti yang telah kita ketahui, salah satu indikator dalam pertumbuhan nasional adalah besarnya realisasi unsur ‘G’ atau belanja pemerintah yang aalam APBN 2013 mencapai bilanga  1600 triliun. Faktanya, dalam realisasi belanja tersebut mau tidak mau pasti bersinggungan dengan pengadaan barang dan jasa.

Namun saat ini pengadaan di instansi pemerintah adalah merupakan salah satu penyumbang dalam pemenuhan penjara di Indonesia. Risiko dalam PBJ tidak pandang bulu, mulai dari Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota bahkan sampai tingkat Kepala Desa dapat dituntut jika ada kesalahan atau penyelewengan dalam pengadaan barang dan jasa. Penyebab maraknya korban yang harus mengiap di hotel prodeo karena pengadaan barang dan jasa bisa jadi disebabkan karena tiga hal: tertarik untuk melakukan penyelewengan, kambing hitam dari oknum yang melakukan penyelewengan, atau karena ketidakhati-hatian.

Kasus korupsi dalam proses PBJ di Indonesia  berjumlah hingga 3.423 kasus. Sementara itu 85 persen 173 kasus yang melibatkan kepala daerah juga merupakan kasus pengadaan barang dan jasa. Dari catatan KPK, lebih dari 70 persen adalah kasus pengadaan barang dan jasa. 90 Persen diantaranya terjadi saat perencanaan.

Ketakutan akan terjeratnya panitia pengadaan terhadap dugaan korupsi inilah yang menyebabkan kurang efektifnya beberapa pengadaan di Indonesia. Banyak orang-orang yang sebenarnya mampu dan berkompeten
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar

Senin, 10 Desember 2012

Kemilau Pemuda Indonesia, Kita Tak Kalah dari yang Lain

Senin, 10 Desember 2012
Pemuda identik dengan semangat, perubahan, dan hal baru. Menyoal kondisi pemuda masa kini layaknya menyoal pendidikan di Indonesia, tidak ada habisnya karena menyangkut berbagai aspek kehidupan. Pendidikan, soasial, ekonomi, dan teknologi menjadi aspek-aspek yang sangat dekat dengan kehidupan pemuda.

Membahas tentang pemuda selalu menjadi hal yang menarik.Baik itu ketika membandingkan pemuda masa kini dengan pemuda di era sebelumnya, ketika menyoal problematika pemuda masa kini, maupun  ketika menelisik prestasi pemuda masa kini.

Menurut data dari Badan Pusat statistik, tercatat sejumlah 7,4 juta orang pemuda Indonesia yang termasuk dalam kategori usia produktif adalah pengangguran. Hal ini berarti, 9,25% pemuda Indonesia adalah tidak berhasil menggunakan waktu mudanya dengan baik. Belum lagi pernyataan pesimis di berbagai media yang mengatakan bahwa mayoritas pemuda Indonesia hidup miskin dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah. Sungguh ironi mengingat masa depan suatu bangsa bertumpu pada pemudanya. Apa jadinya Indonesia kelak jika ujung tombak perjuangannya tumpul tak terasah pendidikan?

Sukarno, dalam salah satu pidatonya mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia”. Mungkin kurang tepat, namun juga tidak salah. Yang jelas, ungkapan tersebut menunjukkan optimisme Presiden Indonesia pertama tersebut akan potensi pemuda.

Pernah mendengar nama Basaer Othman?
Klik untuk membaca lanjutannya

0 komentar