Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Jumat, 29 Maret 2013

Kenyamanan dalam Kereta VS Sumber Penghidupan

Jumat, 29 Maret 2013
Tujuan kebijakan PT KAI baru-baru ini adalah untuk meningkatkan kenyamanan pelayanan publik. Kebijakannya bertahap, mulai dari penghapusan sistem tiket tanpa tempat duduk di kereta api jarak jauh, sterilisasi stasiun, penghapusan KRL ekonomi, dan penghapusan kereta ekonomi jarak jauh. 

Dananya? Tentu tidak cuma sedikit, apalagi untuk sterilisasi.

Nantinya, tidak akan ada lagi KRL ekonomi dan kereta ekonomi jarak jauh. Semuanya akan diganti, minimal ekonomi AC. Padahal, tidak segelintir orang yang mengandalkan penghidupan dari kereta ekonomi. Pengamen, pedagang asongan, peminta-minta, penyapu, banci, penyemprot, bahkan para pegawai yang biasa pulang-pergi di akhir pekan untuk bertemu keluarga di kampung halaman. 


Tidak ada lagi pedagang di dalam kereta ekonomi jarak jauh.
Lantas, bagaimana kalau
tiba-tiba ingin pop mie di tengah malam? Atau mijon? Harga makanan di gerbong restorasi rasanya kurang nyaman di kantong. Masak, setara harga rumah makan ternama yang biasa mentereng di mall-mall.


Tidak akan ada lagi kereta ekonomi jarak jauh.
Rasanya kereta bukan lagi barang publik, sudah berubah untuk kalangan menengah dan menengah ke atas. Tidak ada lagi 35-50 ribu untuk pulang ke Jogja. Semua kecepatan dan ketepatan itu harus dibayar mahal, paling tidak 150 ribu, setara bus VIP.

Iya sih, kereta jarak jauh sekarang lebih aman. Nggak berjubel seperti ikan pindang. Nggak was-was takut dicopet. Kalau semua sudah ber-AC, nggak akan ada lagi gangguan dari asap rokok. Iya, nyaman.

Nasib Para Pedagang, Siapa Peduli?


Salah satupedagang di KRL ekonomi
Oh, iya.
Cerita punya cerita, si bapak dalam foto adalah pedagang salah satu kios di Stasiun Pondok Ranji. Setelah sterilisasi stasiun,si Bapak pindah berjualan di KRL ekonomi. Sialnya, itu juga tidak lama karena KRL ekonomi akan segera ditiadakan. Banyak pedagang yang bernasib sama dengan si Bapak, terpaksa mencari sumber penghidupan lain. Berapa stasiun yang ada di Jabodetabek? di Jawa Barat? Di Jakarta? Dan berapa pedagang yang harus terusir?
Apa jadinya kelak?
Yah. Kebanyakan dari mereka sih mengaku pasrah.
"Kita mau protes apapun juga nggak akan ada hasilnya. Suara kita nggak akan didengar. Kalau mau demo, ya, seharusnya yang demo bukan kita tapi para penumpang."
Nggak papa gitu Pak, 10 tahun berjualan di sini, trus tiba-tiba nggak boleh lagi?


"Biasa aja, mau gimana lagi. Kan, memang kita nggak punya hak."
Trus, besok gimana, Pak?


"Nggak tau, belum ada rencana."
sedang yang lain menjawab,
"Ya, palingan jualan di kampung-kampung"
Iya sih, saya juga merasa lebih nyaman dengan kondisi stasiun-stasiun setelah disterilisasi. Lebih lega, lebih  bersih, dan lebih plong.

Ah, tapi, haruskah semua kenyamanan saya itu dibayar mahal dengan hilangnya sumber penghidupan mereka? 
Hanya sebagai pengingat, besok kalau sudah duduk di pemerintahan dan jadi policy maker, sering-sering lah melihat ke bawah. Iya sih, semua kebijakan disusun dengan analisa dan perhitungan yang tidak sederhana. Paling tidak, ada analisa cost and benefit. semuanya pasti mengandung trade off, harus ada yang dikorbankan. Tapi kan, yang benar-benar merasakan dan melaksanakan itu para grass root, bukanpolicy maker.
Tahu apa kalau tidak melihat ke bawah?

0 komentar:

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^