Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Minggu, 13 Desember 2009

Ramadhan, Bulan Pengobat yang Rusak

Minggu, 13 Desember 2009
“…Ketika habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan…
…Alangkah nikmat ibadah bulan ramadhan, seluruhnya sekaum senegara. Kaum muslimin dan muslimat sedunia seluruhnya dipersatukan dalam memohon ridha-Mu.”

Cuplikan nasyid “Rindu Ramadhan” yang disenandungkan oleh Bimbo itu tidak berlebih dalam menggambarkan kegungan bulan Ramadhan, bulan penuh hikmah yang selalu dinanti kedatangannya. Setiap Bulan Ramadhan telah usai akan muncul rasa cemas dalam setiap hati seorang insan. Apakah tahun depan saya masih bisa bersua dengan Bulan Ramadahan? Alasan yang menyebabkan rasa rindu itu datang bagi setiap orang berbeda-beda. Ada sebagian orang yang merindukan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan bagi mereka untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menganggap bulan itu adalah bulan yang tepat bagi mereka untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Ada juga yang menganggap bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengahapus dosa-dosa yang telah dilakukan selama setahun ini.
Apapun alasannya, bulan Ramadhan selalu dirindukan setiap Muslim di dunia ini. Tidak dipungkiri lagi, Ramadhan membawa berjuta hikmah dan fadhilah bagi kita semua. Namun, apakah Ramadhan hanya sekedar bulan penghapus dosa? Bulan yang tepat untuk memohon ampun dan menambah amal?

Tidak. Ramadhan menyimpan sejuta pesona dan kebahagiaan. Bulan penuh keajaiban, ketika energi-energi kebahagiaan meluap. Ketika anak-anak mnyunggingkan senyum terlebar mereka untuk pergi ke masjid. Ketika energy-energi positif muncul, membuat kita yang biasanya makan setiap hari sanggup bertahan hanya dengan makan di malam hari.

Hal paling dekat yang bisa kita amati perubahannya pada bulan Ramadhan adalah pada keluarga. Dewasa ini mayoritas keluarga di Indonesia hidup dalam keadaan kekurangharmonisan. Hal tersebut karena orang tua terlalu sibuk bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tujuan mereka semula mulia, untuk membahagiakan keluarganya, anak-anaknya. Namun seiiring dengan kesibukan itu adakalanya anak menjadi kurang diperhatikan. Bahkan, terkadang anak mengenali sosok ayah dan ibunya sebagai sosok “asing” yang tinggal bersama mereka. Sedikitnya waktu luang yang diberikan ayah bunda untuk sekedar bercengkrama atau makan bersama dengan buah hati menyebabkan ikatak batin mereka kurang kuat.

Namun hal tersebut bisa terobati dengan datangnya bulan Ramadhan. Kala Ramadhan tiba, keluarga-keluarga yang sebelumnya kurang harmonis menjadi lebih harmonis. Kala Ramadhan tiba, para anggota keluarga yang sebelumnya jarang bertemu menjadi lebih sering bertemu. Event-event kecil yang membahagiakan seperti buka bersama, sahur bersama, atau berangkat Tarawih bersama menjadikan setahun yang penuh keasingan menjadi cair.

Keluarga yang jarang makan bersama menjadi lebih sering makan bersama, saat berbuka ataupun sahur. Walaupun hanya makan bersama, namun hal itu dapat mempengaruhi ikatan batin antaranggota keluarga. Bagaiman ketika orang tua bercakap-cakap dengan anaknya, bagaimana ketika mereka bercanda dengan buah hatinya. Anak tidak lagi mengenal orang tua mereka sebagai sosok asing yang tinggal bersama mereka, namun menjadi sosok penyayang yang selalu ada untuk melepas hati yang dahaga kasih sayang.

Ramadhan juga memberikan efek positif pada lingkungan sosial anak-anak. Di era globalisasi ini, dunia anak dipenuhi dengan berbagai macam mainan dan aktivitas yang menggiurkan. Playsstation, game, komputer, dan internet membuat anak-anak lebih suka bermain sendiri di rumah dari pada bermain bersama teman-teman sebayanya. Pesona permainan-permainan modern itu telah menjauhkan seorang anak dari dunianya yang seharusnya. Dunia masa kanak-kanak yang dipenuhi tawa, canda, kebersamaan, dan persaingan antarkawan. Dunia yang seharusnya belum terkotori oleh noda teknologi.

Namun sekali lagi, Ramadhan dapat menyembuhkan dan mengembalikan kondisi itu seperti semula. Anak-anak yang sebelumnya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing menjadi sering bertemu kembali. Anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bertegur sapa karena tidak saling kenal menjadi kenal, bahkan akrab. Anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bercakap-cakap padahal mereka tinggal berdektatan menjadi sering bercakap-cakap, bahkan bercanda bersama.

Satu hal yang dinantikan anak-anak pada saat Ramadhan tiba yaitu sebuah event buka bersama di masjid atau “ta’jilan”. Karena suasana kebersamaan yang kental, walaupun makanan yang disajikan tergolong biasa saja, setiap anak pasti merasakan rasa lezat di lidah. Rasa itu tidak akan mereka dapati ketika memakan makanan itu sendiri di rumah. Bahkan rasa itu tidak akan mereka dapati walaupun si anak memakan masakan buatan chef-chef terkenal sekalipun.

Saat berta’jil, anak-anak akan berbondong-bondong, besama-sama pergi ke masjid. Saat itu benih-benih persahabatan yang baru pun akan muncul. Diawali dari berangkat ke masjid bersama, akan berkembang menjadi persahabatan yang tak terpisahkan. Di masjid, anak-anak akan bertemu dengan kawan-kawan sebayanya yang lain. Puluhan anak yang memiliki jiwa yang sama, rasa keingitahuan yang sama, keinginan yang sama, dan alam pikiran yang sama. Tidak seperti mainan-mainan modern yang menghipnotis otak mereka sesaat tetapi tidak bisa diajak berbagi.

Pesona Ramadhan juga dirasakan oleh mereka yang mengalami sakit atau gangguan pada oragan pencernaan. Percernaan mereka yang terganggu karena pola makan yang kurang sehat menjadi “terobati” oleh Ramadhan. Itu disebabkan karena puasa menyababkan pola makan kita menjadi teratur, berbuka hanya setelah senja dan sahur hanya sebelum fajar tiba. Selain itu, lambung yang setiap kali bekerja keras mendapat waktu beristirahat yang lebih saat Ramadhan.

Tidak hanya jiwa manusia yang mendapat curahan kebahagiaan saat Ramadhan tiba, namun juga oragn-organ tubuh, lingkungan, bahkan seluruh alam. Sekiranya Ramadhan memang bulan besar yang penuh hikmah. Bulan agung yang penuh kebahagiaan. Tidak salah jika kita menyebut Ramadhan sebagai “Bulan dari Segala Bulan”.
Seandainya jika setiap bulan adalah Ramadhan….

Mungkin kalimat itu pernah terbesit dalam pikiran kita. Seandainya setiap bulan adalah Ramdahan, maka setiap tahun kita akan mengalami kebahagiaan. Keluarga-keluarga kurang harmonis akan hilang digantikanoleh keluarga yang selalu bersama setiap saat. Anak-anak akan selalu bercengkrama bersama kawannya, tidak akan ada lagi anak-anak yang kesepian. Setiap orang yang mengalami gangguan pencernaan pasti akan sembuh. Dan seluruh alam akan berbahagia sepanjang tahun, betapa indahnya.

Tidak. Ramadhan istimewa karena ia hanya datang satu kali dalam setahun. Ramadhan istimewa karena ia telah ditakdirkan oleh Allah menjadi bulan yang istimewa. Jika setiap bulan menjadi bulan Ramadhan, maka Ramadhan akan menjadi tidak berbeda dengan bulan-bulan lain. Karena itulah Ramadhan yang datang sekali setahun dan memberikan sejutan manfaat bagi kita semua. Ramadhan tetaplah bulan yang istimewa.




Klik untuk membaca lanjutannya

2 komentar

Jumat, 11 Desember 2009

BLT, EFEKTIFKAH?

Jumat, 11 Desember 2009
Krisis ekonomi tahun 1998 adalah sebuah tragedi yang menakutkan bagi bangsa Indonesia. Kestabilan perekonomian nasional yang telah susah payah dibangun sejak awal kemerdekaan dan hampir mencapai titik kulminasi kesejahteraan nasional, terpaksa jatuh pada tahun itu. Pemerintahan Suharto lah yang hampir membawa kestabilan perekonomian nasional menjuju titik kulminasi. Ironisnya, rezimnya pula yang menyebabkan krisis itu terjadi. Dolar yang terus merangkak naik, inflasi yang tak terkendali, dan membengkaknya hutang negara membuat pertumuhan ekonomi Indonesia saat itu seaakan hampir mati. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memulihkan kembali keadaan perekonomian di Indonesia. Pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan baru untuk terus menekan inflasi. Namun hingga kini, perekonomian Indonesia tak lagi sehebat dulu. Mayoritas rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dan berdaya beli rendah.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah guna meningkatkan daya beli masyarakat miskin adalah dengan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Program ini mulai dijalankan sejak 24 Mei 2008 mengikuti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan BLT pemerintah berharap dapat menolong masyarakat miskin menghadapi krisis kenaikan BBM yang diikuti kenaikan harga barang-barang lain. Dana negara sebesar 13 triliun telah dipersiapkan untuk membantu 19,1 juta keluarga miskin di berbagai daerah di Indonesia. BLT diberikan berupa uang kontan sejumlah Rp.100.000,00 perbulan. Jika ditinjau secara sederhana, tampaknya BLT akan berhasil meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Namun jika ditinjau lebih dalam lagi, apakah program BLT benar-benar efektif untuk meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat?

Anggapan bahwa pemberian bantuan secara cuma-cuma akan sangat membantu bukanlah anggapan yang selalu benar. Bantuan bukanlah hal yang bersifat mutlak membantu, namun relatif. Ada kalanya bantuan akan sangat membantu, dan ada kalanya bantuan hanya akan memanjakan pola hidup. BLT yang diberikan berupa uang tunai secara cuma-cuma akan sangat berdampak pada pola hidup masyrakat. Uang tunai yang diberikan setiap bulan tanpa harus bekerja, hanya dengan sebuah surat keterangan tidak mampu yang kebenarannya dapat dimanupulasi.

Pada awalnya, BLT yang diberikan akan membantu masyarakat yang benar-benar tidak mampu. Mereka menjadi bisa membeli kebutuhan sehari-hari dan merasa sangat tertolong. Namun, pemberian BLT secara terus menerus dan rutin juga akan memanjakan pola hidup masyarakat. Masyarakat menjadi terbiasa mendapat uang tanpa harus bersusah payah. Mereka menjadi malas bekerja, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka hanya dengan mengandalkan BLT saja sebagai sumber pendapatan. Bukannya menciptakan kemakmuran, bantuan secara langsung dan cuma-cuma hanya akan menciptakan generasi masyarakat yang malas bekerja dan malas berusaha.

Terbiasa mendapat keberuntungan dan kemudahan juga akan mengerdilkan pola pikir masyarakat. Pada umumnya dalam keadaan kritis, seseorang akan menggunakan pikirannya semaksimal mungkin untuk menciptakan jalan keluar dari jerat yang membelenggunya. Artinya, masyarakat akan menggunakan potensi yang mereka miliki semaksimal mungkin untuk menciptakan kreasi baru dan inovasi untuk dapat keluar dari peliknya permasalahan ekonomi yang mereka hadapi. Namun dengan BLT, masyarakat menjadi terbiasa hidup dengan menunggu uluran tangan dari orang lain. Dan akhirnya hanya berdiam diri di rumah, malas bekerja, dan menunggu datangnya jatah BLT bulan depan. Sungguh memilukan.

Bantuan tidak selalu membawa kebahagiaan, bahkan terkadang membawa kericuhan. Fakta yang terjadi, banyak aparat desa yang mengeluhkan tentang adanya BLT karena mereka harus bekerja lebih keras untuk mendata keluarga-keluarga prasejahtera yang pantas untuk mendapatkannya. Selain itu mereka juga mengeluhkan kemarahan warga yang sering terjadi karena kurang adilnya kinerja aparat desa untuk memutuskan keluarga mana yang berhak mendapat BLT. Kadang ada keluarga prasejahtera yang tidak mendapat BLT sedang di sisi lain tetangganya yang kaya mendapatkannya.

Pada praktiknya BLT kurang tepat diterapkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. BLT hanya akan membuat masyarakat manja terhadap bantuan, mendangkalkan daya kreativitas, dan menimbulkan kericuhan. Lantas upaya apakah yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat? Jawabannya adalah dengan berwirausaha atau enterpreneurship. Pemerintah dapat mendirikan industri-industri kecil yang kemudian diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola. Selain memupuk pribadi yang gigih dan tekun bekeja, berwirausaha juga akan meningkatkan daya kreativitas masyarakat untuk mengembagkan industri mereka. Laba penghasilan dapat digunakan untuk menggaji karyawan, dan sisanya untuk mengembangkan industri tersebut. Selain meningkatkan daya saing masyarakat, industri-industri kecil ini juga akan menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Memberi bantuan secara cuma-cuma bukanlah solusi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan. Memberikan dorongan kecil dan membiarkan masyarakat mengupayakannya sendiri akan lebih berhasil guna dan berdaya guna.





Klik untuk membaca lanjutannya

7 komentar

Sabtu, 05 Desember 2009

SEBERKAS SINAR DALAM CANTING MUDA

Sabtu, 05 Desember 2009
Batik, sebuah kesenian yang telah muncul berabad-abad tahun lalu. Kesenian menorehkan motif-motif geometris ataupun motif-motif naturalstik pada selembar kain dengan menggunakan canting. Kesenian yang mengungkapkan kekayaan budaya Indonesia. Kesenian yang mengungkapkan keluhuran nenek moyang bangsa Indonesia. Kesenian yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan rasa estetika yang tinggi.

Batik, budaya agung Indonesia yang mulai dilupakan. Budaya Indonesia yang fenomenal karena diperebutkan dua negara. Budaya yang kini mulai “dipeluk” kembali.


******

Pagi itu suasana kelas masih sepi. Hanya terdengar beberapa siswa yang berbisik-bisik mengenai ulangan Bahasa Inggris minggu lalu. Sang Guru pun sedang duduk di singgasananya, menyiapkan materi pembelajaran hari ini.

Namun tiba-tiba saja suasana kelas yang tadinya hening menjadi heboh karena kedatangan seorang siswa. Ia terlambat masuk sekolah! Tapi bukan itu yang membuat kawan-kawannya heboh. Yang membuat mereka semua heboh adalah pakaian yang dikenakan siswa itu. Ia tidak memakai seragam identitasnya yang berwarna coklat khaki, ia malah memakai sebuah atasan batik. Padahal peraturan sekolah jelas-jelas melarang siswanya untuk menanggalkan “pakaian kebesaran siswa” atau seragam.

“You late!” kata Sang Guru. Si murid meminta maaf dengan pasrah diantara sorakan teman-temannya.

“Sudah terlambat, tidak memakai seragam lagi!” celetuk salah satu temannya.

“Maaf, Bu. Saya akan ganti baju.” kata siswa yang terlambat itu.

“It’s okay.” kata Sang Guru. “Tidak apa-apa kamu memakai batik. Di Bantul, yang diwajiban menggunakan batik saat hari batik memang hanya pegawai saja, sedang siswa tidak. Tapi kalau kamu mau pakai boleh. Bagus sekali kalau kamu mau berpartisipasi di Hari Batik Nasional ini.”

Semua siswa terdiam, mengagumi kebijaksanaan Sang Guru.

“Jadi kalian yang membawa batik, sekarang boleh ganti baju. Dipakai saja tidak apa-apa. Tidak usah takut, toh Pak Presiden yang menganjurkan. Batik kan budaya kita, ita memang harus mendukung dan melestarikannya, isn’t it?”
******

Setiap tanggal 2 Oktober seluruh lapisan masyarakat Indonesia akan merayakan Hari Batik. Pada hari itu, seluruh pegawai negeri diwajibkan untuk mengenakan pakaian batik. Bahkan pelajar di beberapa daerah pun diwajibkan untuk mengenakan batik.

Antusiasme yang sangat besar muncul di kalangan pelajar. Kalangan muda memang mempunyai semangat yang tinggi untuk turut serta dalam pembelaan budaya bangsa. Mulai dari masa penjajahan hingga masa kini, pemuda selalu menjadi tonggak perjuangan bangsa Indonesia. Jadi, tak salah jika kita membebankan perjuangan untuk melesarikan batik pada kalangan pemuda.

Para remaja dan para pemuda adalah kalangan yang tepat untuk dijadikan tonggak perjuangan untuk melestarikan batik. Dengan semangat jiwa muda yang berkobar, tak salah jika mereka disebut “canting muda” yang akan melambungkan kembali kejayaan batik. Para “canting muda” diharapkan lebih bangga memakai batik daripada memakai pakaian import. Namun kenyataannya, kaum muda justru menghindari memakai batik.

Selama ini batik identik dengan kesan formal dan “tua”. Hal tersebut karena batik biasa digunakan oleh prang-orang tua dalam acara-acara formal. Sehingga kalangan muda mengira jika mereka mengenakan batik akan tampak tua. Itulah mengapa kaum muda agak menghindari batik. Alasan lain mengapa kaum muda cenderung menghindari batik adalah karena modelnya yang monoton.

Dengan lebih memvariasikan model pakaian pada batik, diharap kaum muda lebih menyukai batik. Kalangan remaja umumnya menyukai model pakaian yang simple tapi tampak menarik. Jadi, sebaiknya para produsen pakaian batik tidak perlu ragu-ragu untuk membuat model batik sekreatif mungkin. Bahkan jika memungkinkan, para produsen bisa membuat aneka pernak-pernik manis dari batik. Misalnya saja tempat pensil dan hiasan dinding. Dengan demikian, kalangan muda akan lebih tertarik pada batik.
Klik untuk membaca lanjutannya

4 komentar

Sabtu, 28 November 2009

BLOG vs FACEBOOK? MENGAPA TIDAK BLOG ft. FACEBOOK?

Sabtu, 28 November 2009


Roda waktu akan terus berputar, mengikis sedimentasi memori yang tertanam kuat dalam dunia imaji manusia. Waktu mengikis kenangan akan canda tawa dunia, waktu juga mengikis kepedihan dan penderitaan. Waktu akan mengalahkan dan mengubur jiwa-jiwa manusia yang lemah, jiwa yang mudah terseret dan tertarik gemerlap dunia fana ini. Ah, waktu… Suatu dimensi yang diluar kendali kita. Dapatkah kita mengendalikannya?


Seiring dengan berjalannya waktu, bias-bias dunia ini juga akan terus berubah. Begitu juga dengan teknologi ciptaan manusia. Teknologi ciptaan manusia berkembang dengan amat pesat. Dulu ada MIRc dan yahoo messenger yang popular sebagai media chatting, kini mulai tergantikan oleh Mig33, MXIT, ataupun Nimbuzz. Dulu ada Friensdter sekarang ada Twitter. Dulu ada Blog, sekarang ada Facebook.

Dewasa ini situs pertemanan atau jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, maupun Twitter lebih diminati daripada situs untuk sharing pemikiran seperti blog. Dan seperti yang kita ketahui, jejaring sosial terpopuler saat ini adalah Facebook. Lahirnya Facebook sedikit banyak telah mengusik dunia blogging. Bagaimanakan nasib dunia blogging setelah “lahirnya” Facebook? Akankah dunia blogging yang imajinatif akan mengalami mati suri? Mati, hidup lagi, mati, hidup lagi, mati, hidup lagi? Ataukah dunia blogging benar-benar mati? Ataukah dunia blogging akan tetap eksis?

Well… Kawan, lihatlah kenyataan saat ini. Semua orang tertarik pada Facebook. Dari golongan netter muda sampai golongan netter yang sudah berusia. Bahkan orang-orang yang sebelumnya belum pernah “menyentuh” internet pun mulai kegandrungan Facebook. Tidak bisa dipungkiri lagi, Facebook seakan "menghipnotis" jutaan umat manusia.


Dan para blogger pun juga turut menjadi korban Facebook. Kini banyak blog yang vakum karena si empunya lebih asik ber-Facebook ria. Banyak blog yang jarang atau bahkan tidak pernah diupdate lagi karena si empunya lebih senang mengupdate statusnya di Facebook. Dan sekarang kawan-kawan bloggerku pun semakin sedikit yang masih tetap eksis. Kini yang kurasakan adalah dunia blogging semakin sepi saja. Yah, walau begitu, aku tetap yakin masih ada segelintir blogger yang akan selalu setia dengan blog mereka. :)



Sebenarnya apa sih yang menarik dari Facebook?

Seperti yang sering digembor-gemborkan, salah satu daya ikat Facebook yang terkuat adalah “menemukan teman lama yang hilang”. Sebenarnya untuk menemukan teman lama yang hilang tidak harus dari Facebook, dari blog pun bisa (jika teman yang kita cari itu juga mempunyai blog ^^ ).Tapi sebenarnya apa yang membuat banyak orang lebih tertarik pada Facebook ketimbang blog? Jawabannya yaitu Facebook lebih simple. Dilihat secara sekilas, blog dan Facebook hampir sama. Untuk mengutarakan pikiran, mendapatkan teman, berbagi pengalaman, maupun berbagi foto.

Menulis di Facebook lebih simple dan mudah daripada menulis di blog. Di Facebook, kita bisa mengupdate status dan membuat catatan sesukanya. Bisa saja kita menulis status hanya dengan kalimat “Aku lapar…”. Sedang di blog, tulisan yang akan diposting sebisa mungkin menarik pembaca dan berisi, atau minimal tidak memalukan saat dibaca. Itulah mengapa banyak orang lebih menyukai Facebook, mereka lebih menyukai segala sesuatu yang simple. Tidak perlu berpikir banyak, tidak perlu repot-repot menambah widget, atau tidak perlu repot-repot menghias layout. Tapi tenang saja, kita para blogger tidak akan kalah dari para Facebooker. Orang yang memahami dunia blogging pasti dengan mudah memahami penggunaan Facebook, tapi orang yang punya Facebook belum tentu bisa menggunakan blog. 

Aku sendiri termasuk orang “kolot” yang tidak mau membuat Facebook karena suatu alasan, yang jelas bukan karena tidak bisa. Kadang aku juga “meminjam” akun Facebook milik teman untuk bermain game atau sekedar melihat-lihar status. Dan setelah dipelajari, ternyata Facebook memang lebih simple, tidak membutuhkan banyak pemikiran.

Jadi teringat percakapan saat chatting dengan seorang teman yang saat itu belum menjadi seorang blogger. Sebut saja namanya Ay, kurang lebih isi percakapan kami….

Ay : “Mum, punya FB?”
Aku : “Et aja. Emailku tya_dkutupa@xxxxx.xx.xx”
Aku : “Nggak usah email-emailan. Namamu di FB apa??”
Aku : “Kutupa Tukang Ngeleh”
Ay : “Okey, besok y”
Aku : “Kalau kamu et… pasti nggak bakal ada. Orang aku nggak bikin kok :P FS aja juga nggak bikin.”
Ay : “Ha…Ha… Jaman kayak gini nggak punya FB? Malu-maluin.” :D
Aku : “Biar, emang kenapa? Aku juga masih bisa hidup walaupun nggak punya FB, hehe…”
Ay : “Pasti nggak bisa buatnya, iya kan? Ngaku aja :P”
Aku : “Buat blog aja bisa, kenapa buat FB nggak bisa. Gampang tho, tinggal ngisi formnya. Lagian apa asiknya FB?”
Ay : “Banyak… di FB, kita bisa cari teman sebanyak-banyaknya.”
Aku : “Di blog juga bisa :P”
Ay : “Di FB bisa update status.”
Aku : “Di blog kita juga bisa, tinggal posting tentang pengalaman kita. Sama kan dengan update status? :P”
Ay : “Banyak fitur-fitur aplikasi di FB. Ada ramalan, horoskop, tebak jodoh, game Mafia, tes IQ…”
Aku : “Di blog juga ada link atau banner-banner yang menghubungkan kita ke situs-situs kayak gitu kok. Untuk nebak nasib, untuk mengatahui nama Jepang kita, untuk tes IQ, world clock. Pokoknya banyak, Ay!”
Ay : “Tapi beda… Pokoknya kalau punta FB, kita bisa cari teman sebanyak-banyaknya.”
Aku : “Ay, apa gunanya teman kalau kita nggak benar-benar kenal? Hanya sebatas foto, nama, dan status… Kalau di blog teman-teman kita bisa untuk saling sharing. Hehe..”
Ay : “Iya sih… Tapi yang jelas, FB lebih asik dari blog. Kalau nggak percaya coba aja :P”
Aku : “Wei, siapa bilang blog nggak asik. Coba aja… :P”

Dan akhirnya percakapan itu berakhir dengan kami menyarankan satu sama lain untuk saling mencoba. Beberapa minggu kemudian dari salah satu blog teman aku menemukan bahwa Ay telah membuat blog, dan sepertinya postingannya cukup banyak. Sayangnya karena banyak sekali kesibukan di kelas tiga, sekarang dia sudah mulai kembali lagi ke Facebook tersayangnya. Tapi aku tetap keukuh dan kolot dengan prinsipku yang tidak akan membuat facebook, atau setidaknya belum untuk beberapa tahun ini. (Mungkin saat itu Facebook akan sudah ketinggalan zaman dan digantikan yang lain)

Kembali lagi pada dunia blog yang saat ini mulai kembang kempis. Bagaimanakah cara kita memeprtahankannya, melestarikannya?

Yang terpenting bukannya mempermasalahkan apakah Facebook atau situs jejaring sosial lain berpengaruh buruk bagi dunia blogging atau tidak. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita bisa berperan serta agar dunia tulis menulis di dunia blogging tetap diminati.

Banyak cara yang bisa kita lakukan, misalnya saja mengajak teman blogger kita yang sudah “menyeleweng” untuk kembali aktiv dalam dunia blogging. Atau dengan mengajak orang lain yang belum punya blog untuk membuat blog. Atau dengan mengadakan kompetisi blog, pasti banyak yang berminat. Well, susah-susah mudah sih…

Yang jelas untuk melestarikan dunia blogging, caranya bukan dengan menghancurkan pesaingnya. Tetapi dengan mengompilasikannya, memadukannya. Tidak mungkin kan kita para pecinta blogging menyabotase Facebook ataupun mempengaruhi para Facebooker untuk meninggalkan Facebook. Tentu saja itu tindakan yang tidak sportif.

Memadukan Facebook dan blog di sini bukan berarti menjadikan Blog dan Facebook menjadi satu, tetapi memadukan “fungsi” dari keduanya. Misalnya saja kita menggunakan Facebook untuk berkomunikasi dengan teman-teman atau untuk menemukan teman lama yang hilang. Sedang blog untuk menyalurkan ide-ide dan kreativitas kita dalam tulisan.

Dengan cara itu, diharapkan dunia blogging tidak akan mati suri. Dunia blogging akan tetap bernafas dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Jika kita bisa menjadikan sesuatu sebagai teman, mengapa harus menjadikannya sebagai musuh? :D

Pokoknya, HIDUP BLOGGING!!! YEAH!!! YEAH!!!
Klik untuk membaca lanjutannya

13 komentar

Selasa, 24 November 2009

RINDU KEMBALI KE ALAM

Selasa, 24 November 2009
AKU RINDU ALAM
It has been a long time since I had my last adventure…. Even now I don’t remember how was my last adventure.. Coz now, everyday is an adventure (maybe)

Aku rindu menjadi seorang Pramuka. Aku rindu tempatku bersua, alam.

Alam memberiku banyak keajaiban untuk dipahami dan disyukuri. Dari alam aku belajar untuk mencinta dan menerima segala suratan yang telah tersurat. Alam menyajikan music terindah, harmoni molekul-molekul yang berpadu satu dalam partirtur musik terindah, simfoni alam. Alam menyajikan lukisan terindah, balance seluruh tekstur, kontras, dan bidang dalam lukisan terindah, lukisan alam. Alam menyajikan senyawa terindah untuk dikecap indera, alam menyajikan unsur ternikmat untuk dihirup, alam menyajikan segalanya. Kehidupan!!

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Kita, sekelompok pemuda pencinta alam, pencinta tantangan, pencinta petualangan. Maybe orang lain menganggap kita sebagai sekelompok orang konyol yang freak, kumpulan orang yang mau bersusah-susah saat teknologi membuat semua mudah. Tapi sedahsyat apapun globalisasi, kita tidak akan terpengaruh. Toh, kita sudah punya jiwa kita, karakter yang selalu abadi bersama alam. Bersyukurlah karena kita tidak terlalu terlena dan termanjakan oleh teknologi.

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Saat kita menertawakan petaka dan nestapa. Saat kita memusnahkan duka dan derita. Ingatkah? Aura kita sangat kuat, bahkan mampu meluluhkan karang dan cadas, mampu menaklukkan puncak tertinggi. Aura kita, aura pembangkit semangat yang padam. Menelusuri celah-celah terdalam relung jiwa, menemukan dia yang tertidur, mengajaknya terbang dan meluncur bersama hembusan angin.

Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Aku rindu tawa kerikil kala kita menginjaknya, atau desah dedaunan kala kita melintas, juga senyum udara kala kita bersua. Aku rindu butiran air yang menghempas wajahku dengan kesegaran kebebasan. Aku rindu cadas terjal yang kita lalui untuk menggapai pintu keluar labirin itu. Aku rindu pepohonan yang selalu menyapa kita dengan kehangatannya. Aku rindu semuanya! Bahkan rumput basah dan aspal kering tempat kita pergi ke alam mimpi malam-malam itu. Atau udara dingin menusuk yang mengganggu tidur kita malam-malam itu! Ah…, alam terlalu indah untuk dilupakan.

Aku rindu saat kita bersama, memanjat wall tinggi di padang penuh alang-alang itu. Saat kita berlomba untuk mencapai yang tertinggi, merasakan angin yang menerpa dan menghalangi untuk memanjat lebih tinggi. Merasakan tubuh-tubuh penuh peluh dan jantung bergemuruh yang bersandat pada besi dingin. Merasakan hambarnya karat pada besi yang teroksidasi. Walaupun saat itu keluh karena baju menjadi kuning dan tangan menjadi kotor terus terucap, namun kini hanya kegembiraan yang menjadi kenangan.

Aku rindu…

Kini alam menjauh dariku. Ah, bukan! Akulah yang menghianati alam. Aku pergi darinya. Payah!

Dan kini aku hanya berkutat dengan buku-buku itu, dalam lautan rumus, teorema, dan teisi-tesis yang mengencangkan neuron-neuron. Aku hanya berkutat dengan protulat berjibun, yang bahkan makna prostulat itu sendiri pun aku tidak tahu. Trauma masa lalu yang mulai terpupus dan terlupakan seakan ditarik paksa dari dasar tergelap dalam kepalaku. Aku telah berpayah-payah melupakannya, berusaha mengahpusnya dari duniaku agar tidak ternoda. Tapi sekarang, haruskah aku menarik kembali memori itu? Sia-sia, toh kita menuju masa depan, bukan masa lalu.

Sekali lagi, aku rindu kembali berada di alam… mungkin tomorrow, atau the day after tomorrow aku akan kembali lagi. Saat semua rumus, teorema, dan prostulat itu telah kutaklukkan dan kubuang jauh ke tungku pembakaran.

Alam, tungu saja aku. I’ll be back
Klik untuk membaca lanjutannya

4 komentar

Sabtu, 24 Oktober 2009

Terabadikan sebagai anak SD

Sabtu, 24 Oktober 2009
Kenangan kala SMA adalah kenangan paling indah. Masa-masa ketika kita mengenal apa itu teman, sahabat sejati, rival, dan cinta. Masa-masa SMA adalah masa-masa penuh kenangan yang sulit terlupakan.

Nah, so, karena aku dah kelas 3, dan seperti tradisi yang sudah-sudah, kami membuat buku kenangan. Masing-masing kelas punya konsep sendiri tentang foto-foto dalam buku kenangan yang menunjukkan ciri khas dan kreativitas masing-masing kelas. So, pastinya foto-foto dalam buku kenangan itu akan amat sangat beragam. Mulai dari keliling dunia, musik, jaman doeloe, sampai petualangan.

Dan my lovely class, Science2fic Calculator juga udah mempersiapkan tema yang ehem..., gak bisa dibilang jelek. Dan saat itu, kami semua (anak2 IPA2) berasa jadi model dadakan..

Bib: temen-temen, jangan lupa minggu depan kita pemotretan!!
Ophie: (Berasa jadi model dadakan...)

atau..

A: Besok minggu ada acara gak? Ngerjain laporan praktikum yuk
B; Sory, aku ada pemotretan
A: Buah, kayak artis aja...

By the way, dalam buku kenangan itu aku harus terabadikan menjadi seorang anak SD..
Foto di bawah ini adalah salah satu foto yang diambil sehabis pemotretan...

(poto keluarga, kiri-kanan : Papah Prida, pak sopir (Pak Ndut) , Mbak Gory, Mbak Amal, Mbak Prat, Mamah Teteh, Anak sopir)

So, hari minggu itu aku, Bekti, Yuni, Amal, and Prat berasa jadi anak SD yang sesungguhnya. Dan Seninnya kami telah tumbuh dewasa dalam sekejab jadi anak SMA.
Klik untuk membaca lanjutannya

6 komentar

Jumat, 23 Oktober 2009

Kosong Berjudul

Jumat, 23 Oktober 2009
Di penghujung tahun
terseok-seok, tersendat-sendat, tertatih-tatih
mengejar angan asa yang memudar dalam bayang
tertinggal jauh
peluh letih membayang
terjebak rayuan setan dalam benak
terkurung dalam kebebasan yang membuncah
terjerat jeritan putus asa

aku lemah
aku letih
aku payah

mengejar serpihan cahaya yang terus melangkah
berlari, menari bersama simfoni waktu
menerjang badai di sudut cakrawala
kini,
hanya jarak membentang diantara kita
aku di belakang, jauh di belakang
tertinggal

aku tak kuasa
aku tak sanggup

aku si planet mati
aku si komet tak berekor
aku si pelangi tak berwarna


PS: gak sempet bikin postingan yang berbobot Klik untuk membaca lanjutannya

2 komentar

Sabtu, 01 Agustus 2009

ISI DUSGRIB ANAK SEKOLAH

Sabtu, 01 Agustus 2009
Para pembaca yang Budiman... (halah)
*dengan nada bicara seperti seseorang*

Coba deh pinjem dusgrib alias tempat pensil salah seorang temen cewek. Trus diliat isinya? Kebanyakan lengkap banget kan? Pensil ada, pulpen (ballpoint) ada, penggaris, correction pen (Tip-X. Tip-X itu sebenarnya merk lho), busur, jangka, penggaris, dll. Tapi… Bagaimana dengan isi dusgribku? Kita liat yuk...

1.Dusgrib


Tempat pensil merah yang agak-agak imut, bergambar kusing ini asalnya cuma ‘pinjam’ punya adikku yang masih kelas 1 SD

2. Pensil

Dua buah pensil berbeda, masing-masing dengan merk ‘F’ dan ‘S’ ini udah bontot banget. Panjangnya kurang dari 5 cm

3. Pulpen

Untungnya aja aQ masih mending, aQ masih punya 2 pulpen. Yang notabenya asalanya ngambil di persediaan pulpen di rumah. Habis kalau beli PiLOT pasti hilang T.T

4. PENSIL TIC

Tahu pensil tic kayak apa khan? Yang warna-warni itu lho (tapi bukan spidol, bukan juga pelangi). Pesil Tic ku warnanya ungu. Udah hilang tutupnya dan daripada kering, kuganti tutupnya pakau tutup spidol. *lhah, kalau spidolnya jadi kering gimana coba?*

5. Pulpen Boxy

Boxy disini bukan singkatan dari “ITU”, tapi maksudnya pulpen yang tintanya pakai gel. Pulpen BOXY ini nasibnya hampir sama kayak Pensil Tic-ku. Waktu beli sebenarnya imut-imut, sekarang udah jadi luthuk. Karena tutupnya hilang, aku ganti pakai tutup spidol juga *ketawa*

6. Penghapus


Penghapus yang dulunya kotak panjang itu, sekarang udah ngikis and bentuknya jadi aneh. Ada seorang temen yang bilang kalau bentuknya kayak dadu, tapi menurutku bentuknya lebih mirip neker (kelereng)

7.Jangka

Nggak tau kenapa bisa diberi nama jangka. Coba dengerin… Jangka…. Jangka… Dalam jangka waktu 5 bulan, ia telah bla bla bla. Aneh kan kalau alat itu diberi nama “jangka”? * malah ngelantur*
Jangka ini usianya udah 4 tahun, kubeli waktu kelas 2 SMP. Ha..ha… maybe aku pinter ngerawat jangka. *tersenyum bangga*

8. USB Flash Disk


Nama sebenarnya USB Flash Disk;, tapi lebih populer disebut Flash Disk. But, who care? Flash disk ini juga aku beli waktu masih kelas 2 SMP. Kapasitasnya cuma 1 GB, tapi waktu itu harganya 210 ribu. Bandingin sama yang sekarang, 80ribu udah dapet 2 GB

PS:Well, ini sebenernya tulisan udah dari jaman gak enak. Tapi baru sempat posting sekarang

Klik untuk membaca lanjutannya

5 komentar