Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Minggu, 13 Desember 2009

Ramadhan, Bulan Pengobat yang Rusak

Minggu, 13 Desember 2009
“…Ketika habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan…
…Alangkah nikmat ibadah bulan ramadhan, seluruhnya sekaum senegara. Kaum muslimin dan muslimat sedunia seluruhnya dipersatukan dalam memohon ridha-Mu.”

Cuplikan nasyid “Rindu Ramadhan” yang disenandungkan oleh Bimbo itu tidak berlebih dalam menggambarkan kegungan bulan Ramadhan, bulan penuh hikmah yang selalu dinanti kedatangannya. Setiap Bulan Ramadhan telah usai akan muncul rasa cemas dalam setiap hati seorang insan. Apakah tahun depan saya masih bisa bersua dengan Bulan Ramadahan? Alasan yang menyebabkan rasa rindu itu datang bagi setiap orang berbeda-beda. Ada sebagian orang yang merindukan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan bagi mereka untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menganggap bulan itu adalah bulan yang tepat bagi mereka untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Ada juga yang menganggap bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengahapus dosa-dosa yang telah dilakukan selama setahun ini.
Apapun alasannya, bulan Ramadhan selalu dirindukan setiap Muslim di dunia ini. Tidak dipungkiri lagi, Ramadhan membawa berjuta hikmah dan fadhilah bagi kita semua. Namun, apakah Ramadhan hanya sekedar bulan penghapus dosa? Bulan yang tepat untuk memohon ampun dan menambah amal?

Tidak. Ramadhan menyimpan sejuta pesona dan kebahagiaan. Bulan penuh keajaiban, ketika energi-energi kebahagiaan meluap. Ketika anak-anak mnyunggingkan senyum terlebar mereka untuk pergi ke masjid. Ketika energy-energi positif muncul, membuat kita yang biasanya makan setiap hari sanggup bertahan hanya dengan makan di malam hari.

Hal paling dekat yang bisa kita amati perubahannya pada bulan Ramadhan adalah pada keluarga. Dewasa ini mayoritas keluarga di Indonesia hidup dalam keadaan kekurangharmonisan. Hal tersebut karena orang tua terlalu sibuk bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tujuan mereka semula mulia, untuk membahagiakan keluarganya, anak-anaknya. Namun seiiring dengan kesibukan itu adakalanya anak menjadi kurang diperhatikan. Bahkan, terkadang anak mengenali sosok ayah dan ibunya sebagai sosok “asing” yang tinggal bersama mereka. Sedikitnya waktu luang yang diberikan ayah bunda untuk sekedar bercengkrama atau makan bersama dengan buah hati menyebabkan ikatak batin mereka kurang kuat.

Namun hal tersebut bisa terobati dengan datangnya bulan Ramadhan. Kala Ramadhan tiba, keluarga-keluarga yang sebelumnya kurang harmonis menjadi lebih harmonis. Kala Ramadhan tiba, para anggota keluarga yang sebelumnya jarang bertemu menjadi lebih sering bertemu. Event-event kecil yang membahagiakan seperti buka bersama, sahur bersama, atau berangkat Tarawih bersama menjadikan setahun yang penuh keasingan menjadi cair.

Keluarga yang jarang makan bersama menjadi lebih sering makan bersama, saat berbuka ataupun sahur. Walaupun hanya makan bersama, namun hal itu dapat mempengaruhi ikatan batin antaranggota keluarga. Bagaiman ketika orang tua bercakap-cakap dengan anaknya, bagaimana ketika mereka bercanda dengan buah hatinya. Anak tidak lagi mengenal orang tua mereka sebagai sosok asing yang tinggal bersama mereka, namun menjadi sosok penyayang yang selalu ada untuk melepas hati yang dahaga kasih sayang.

Ramadhan juga memberikan efek positif pada lingkungan sosial anak-anak. Di era globalisasi ini, dunia anak dipenuhi dengan berbagai macam mainan dan aktivitas yang menggiurkan. Playsstation, game, komputer, dan internet membuat anak-anak lebih suka bermain sendiri di rumah dari pada bermain bersama teman-teman sebayanya. Pesona permainan-permainan modern itu telah menjauhkan seorang anak dari dunianya yang seharusnya. Dunia masa kanak-kanak yang dipenuhi tawa, canda, kebersamaan, dan persaingan antarkawan. Dunia yang seharusnya belum terkotori oleh noda teknologi.

Namun sekali lagi, Ramadhan dapat menyembuhkan dan mengembalikan kondisi itu seperti semula. Anak-anak yang sebelumnya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing menjadi sering bertemu kembali. Anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bertegur sapa karena tidak saling kenal menjadi kenal, bahkan akrab. Anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bercakap-cakap padahal mereka tinggal berdektatan menjadi sering bercakap-cakap, bahkan bercanda bersama.

Satu hal yang dinantikan anak-anak pada saat Ramadhan tiba yaitu sebuah event buka bersama di masjid atau “ta’jilan”. Karena suasana kebersamaan yang kental, walaupun makanan yang disajikan tergolong biasa saja, setiap anak pasti merasakan rasa lezat di lidah. Rasa itu tidak akan mereka dapati ketika memakan makanan itu sendiri di rumah. Bahkan rasa itu tidak akan mereka dapati walaupun si anak memakan masakan buatan chef-chef terkenal sekalipun.

Saat berta’jil, anak-anak akan berbondong-bondong, besama-sama pergi ke masjid. Saat itu benih-benih persahabatan yang baru pun akan muncul. Diawali dari berangkat ke masjid bersama, akan berkembang menjadi persahabatan yang tak terpisahkan. Di masjid, anak-anak akan bertemu dengan kawan-kawan sebayanya yang lain. Puluhan anak yang memiliki jiwa yang sama, rasa keingitahuan yang sama, keinginan yang sama, dan alam pikiran yang sama. Tidak seperti mainan-mainan modern yang menghipnotis otak mereka sesaat tetapi tidak bisa diajak berbagi.

Pesona Ramadhan juga dirasakan oleh mereka yang mengalami sakit atau gangguan pada oragan pencernaan. Percernaan mereka yang terganggu karena pola makan yang kurang sehat menjadi “terobati” oleh Ramadhan. Itu disebabkan karena puasa menyababkan pola makan kita menjadi teratur, berbuka hanya setelah senja dan sahur hanya sebelum fajar tiba. Selain itu, lambung yang setiap kali bekerja keras mendapat waktu beristirahat yang lebih saat Ramadhan.

Tidak hanya jiwa manusia yang mendapat curahan kebahagiaan saat Ramadhan tiba, namun juga oragn-organ tubuh, lingkungan, bahkan seluruh alam. Sekiranya Ramadhan memang bulan besar yang penuh hikmah. Bulan agung yang penuh kebahagiaan. Tidak salah jika kita menyebut Ramadhan sebagai “Bulan dari Segala Bulan”.
Seandainya jika setiap bulan adalah Ramadhan….

Mungkin kalimat itu pernah terbesit dalam pikiran kita. Seandainya setiap bulan adalah Ramdahan, maka setiap tahun kita akan mengalami kebahagiaan. Keluarga-keluarga kurang harmonis akan hilang digantikanoleh keluarga yang selalu bersama setiap saat. Anak-anak akan selalu bercengkrama bersama kawannya, tidak akan ada lagi anak-anak yang kesepian. Setiap orang yang mengalami gangguan pencernaan pasti akan sembuh. Dan seluruh alam akan berbahagia sepanjang tahun, betapa indahnya.

Tidak. Ramadhan istimewa karena ia hanya datang satu kali dalam setahun. Ramadhan istimewa karena ia telah ditakdirkan oleh Allah menjadi bulan yang istimewa. Jika setiap bulan menjadi bulan Ramadhan, maka Ramadhan akan menjadi tidak berbeda dengan bulan-bulan lain. Karena itulah Ramadhan yang datang sekali setahun dan memberikan sejutan manfaat bagi kita semua. Ramadhan tetaplah bulan yang istimewa.





2 komentar:

TAHUSUSUR mengatakan...

Sejak kapan dirimu mulai suka bersenandung gitu? Haha
keren juga :-D

itulah berkah ramadhan yang tak kan ada dibulan lainnya.
Saya suka ramadhan, karena saat itu saya bisa membantu ayah dan bunda di kios ( banyak pelanggan = THR melimpah ) :-D

Bahkan akhir ramadhan tahun kemarin lusa tak akan terlupa ;-)
kunanti ramadhan selanjutnya :D

***

sepertinya Ramadhan tahun depan kita akan menikmatinya di Bandung. :-)

>>bandung enek sek dodol petasan gak yo :-D

Kutupa mengatakan...

@tahu: siapa bilang aku bersenandung, cuma nulis doank. Karena aku bersenandung lewat tulisan:P

Weh... optimis banget Boz, belum diterima aja udah gitu. Tapi muga-muga aja jadi kenyataan.

Next year kita akan menghadapi ramadhan bersama di bandung, bareng Wakhid, Yoga, Kaisar, Tj, n yang laen. Amin...

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^