Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Jumat, 27 Juni 2014

Resensi Buku: Undakan Menjerit (The Screaming Staircase)

Jumat, 27 Juni 2014

@pdini

Judul asli: Loockwood & Co., TheScreaming Staircase
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Desain Sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Januari 2014
Tebal: 424 halaman





Loockwood& Co. adalah satu-satunya agensi pemberantas hantu yang menerima Lucy Carlyle. Sebagai agensi paling kecil dan kere, Loockwood & Co. hanya beranggotakan tiga orang remaja, yakni Anthony Lockwood, George Cubbins, dan terakhir Lucy sendiri. 

Sosok Lockwood yang enerjik, berwibawa, penuh semangat, dan misterius segera menarik perhatian si karyawan baru, Lucy. Sedang George yang piawai dalam melakukan riset? Lucy justru menganggapnya setampan kaleng margarin yang baru dibuka dan sekarismatik lap basah yang teronggok di lantai.

Bersetting di London, Screaming Staircase bercerita mengenai wabah hantu yang telah menjangiti Inggris selama lebih dari lima puluh tahun. Ya, tugas Lucy dan kawan-kawan ialah untuk membasmi hantu-hantu tersebut yang merupakan pekerjaan prestis di masa itu.

Kasus yang menjadi pembuka novel ini adalah hantu Annabel Ward di Sheen Road nomor 62. Tampaknya sepele. Tapi pekerjaan itu tak berakhir rapi. Lucy dan Lockwood lupa membawa rantai besi yang berfungsi sebagai perlindungan penting dan tanpa sengaja membakar rumah klien. Mereka pun dituntut untuk membayar ganti rugi yang tak sedikit. Lockwood & Co. terpaksa gulung tikar jika tak mendapat kasus bagus sesegera mungkin.

Ketika reputasi mereka semakin hancur akibat berita di koran dan klien semakin berkurang, tiba-tiba datanglah pengusaha paling kaya di London, John Fairfax. Seolah dewa penolong, lelaki itu bersedia membebaskan mereka dari tuntutan dan memberikan bayaran besar jika mereka bersedia menangani salah satu propertinya, rumah paling berhantu di Inggris. Beberapa tahun sebelumnya, tiga pemburu hantu dari agensi paling terkenal dan kompeten di Inggris pernah memasuki rumah itu. Dua dari mereka ditemuka tewas dan agen terakhir tak pernah ditemukan.

Roh di rumah itu sangat kuat. Agensi paling besar saja gagal menanganinya, bagaimana dengan Lockwood & Co.?

Tapi tanpa babibu Lockwood mengambil tawaran itu—tentu saja ini menuai protes dari Lucy dan George. Lockwood memang terlihat gegabah saat mengambil keputusan itu. Tapi nantinya pembaca akan tahu betapa cerdiknya ia. Kelihaiannya bahkan mengingatkan saya pada sosok Sherlock Holmes.

Di titik inilah ketegangan mulai memuncak. Dengan persiapan yang minim, mereka memasuki rumah angker yang selalu membuat beberapa pemilik sebelumnya meninggal. Dua tempat yang menjadi legenda di rumah itu adalah kamar merah dan undakan menjerit. Di akhir cerita terungkaplah benang merah seluruh plot di novel ini—tawaran baik hati dari John Fairfax, misteri kamar merah dan undakan menjerit, serta kasus yang sebelumnya mereka tangani.

“Lockwood,” aku memanggil. “Oh, Lockwood...” Aku mengucapkannya sesantai mungkin. Sebaiknya jangan sampai menunjukkan ketakutan jika berhadapan dengan Pengunjung (hantu). Mereka bisa dengan mudah menyerap ketakutan; membuat mereka bergerak semakin cepat dan semakin agresif. Tidak ada jawaban, maka aku berdehem dan mencoba lagi. “Oh, Lockwood...!” Aku menggunakan intonasi ceria di sini, seakan-akan sedang berbicara kepada bayi atau hewan peliharaan yang lucu. Dan rasanya memang seperti itu karena si pemuda sialan tidak menjawab. (Lucy)

Ditulis dengan sudut pandang orang pertama yakni Lucy, Loockwood & Co. adalah buku berseri kedua karya Jonathan Stroud. Sebelumnya Stroud telah mendulang sukses dengan Trilogi Bartimaeus yang membuat jutaan pembaca jatuh cinta pada Bartimaeus—jin narsis, congkak, sarkas, dan suka mengumpat yang memiliki sedikit sisi kemanusian, humor, dan kehangatan.
                                                        
Awalnya saya membeli novel ini karena merindukan kejujuran yang sarkas ala Bartimaeus. Dan, yah, saya tidak menemukannya di novel ini. Tapi tunggu dulu. Saya justru menemukan tiga karakter yang tak kalah menariknya dari si jin Barty.

Lucy, Lockwood, dan George, tiga tokoh sentral dalam novel tersebut, merupakan rekan satu tim. Tapi jangan bayangkan mereka kompak dan selalu bisa bekerja sama dengan baik. Mereka kerap bertengkar. Bahkan Lucy dan Lockwood juga bertengkar saat sedang menjalankan misi mereka menghadapi hantu tipe dua yang kuat—yang dapat menyebabkan nyawa melayang.

Lucy menyalahkan Lockwood karena lupa membawa rantai besi yang notabene merupakan peralatan bertahan paling penting. Lockwood menyalahkan George—yang saat itu tidak ada di tempat kejadian—karena meminyaki rantai itu sehingga lupa terbawa. Lockwood akhirnya menyalahkan Lucy karena Lucy lah yang mengusulkan agar rantai itu diminyaki. Lucy lalu menyalahkan Lockwood lagi karena membuat keputusan yang gegabah.  

Akur sekali bukan?

Itu adalah cekcok mereka yang pertama. Di bab-bab berikutnya akan banyak lagi cekcok antara Lucy, Lockwood, dan George, meributkan hal tak penting seperti giliran membersihkan dapur hingga pertengkaran besar menyangkut kelangsungan hidup. Tapi, yeah, hubungan mereka selalu baik-baik saja.  Hubungan mereka yang unik inilah yang kerap membuat saya nyengir-nyengir sendiri saat membaca Undakan Menjerit.

Meski tema yang diangkat bukanlah hal yang baru, yakni hantu dan pembasmi hantu, Stroud bisa menyuguhkan pengemasan yang aduhai. Ia menyajikan novel ini dengan setting yang sangat kuat hingga terasa nyata. Ia memaparkan dengan lengkap bagaimana efek wabah hantu pada pola hidup masyarakat, kebijakan pemerintah, hingga lembaga-lembaga yang ada. Misalnya, pemerintah mengimbau penduduk untuk tidak keluar pada malam hari.  Sebagai tindakan ekstra, lentera penghalau hantu juga dipasang di setiap sudut jalan. Pemerintah juga memiliki lembaga khusus untuk mengentaskan wabah hantu serta mengontrol kinerja agensi pembasi hantu.

Level-level dan jenis hantu pun dijelaskan dengan lengkap, mulai dari roh level satu yang tak berbahaya, roh level dua yang cukup berbahaya, hingga roh level tiga yang sangat berbahaya tapi langka.  Bagian glosarium juga sangat membantu memahami istilah-istilah yang ada, mulai dari senjata yang ampuh digunakan untuk melawan hantu, macam-macam kemampuan dalam mendeteksi hantu, hingga pertanda kemunculan hantu.

Novel ini sukses mengaduk-aduk perasaan saya. Takut, berdebar-debar, penasaran, sekaligus geli menahan tawa. Perpaduan yang unik antara cerita horor, aksi, dan misteri ala detektif.

Aku butuh selimut baru dari lemari di kamar mandi bawah. Terlalu dingin... Jantungku agak berdebar saat aku berbaring di tempat tidur. Ini bener-benar terlalu dingin. Bukan dingin dan lembap pertengahan November. Aku membuka mata lebar-lebar. Gelap gulita. Aku tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tapi aku tahu. Aku tidak sendirian di kamar. (Lucy)

Beberapa adegan dalam novel ini dengan gemilang membuat saya merinding. Tapi aksi yang dilakukan oleh Lucy dan kawan-kawan membuat novel ini tidak terlalu menakutkan untuk dibaca. Kekonyolan-kekonyolan yang disuguhkan juga dapat menjinakkan adrenalin yang terlanjur meliar kala membayangkan sosok hantu yang mereka hadapi.

Sayangnya ketika Lucy, Lockwood, dan George memasuki undakan menjerit, saya justru merasa kurang tegang. Adegan digambarkan terlalu cepat. Saya justru lebih tegang ketika membayangkan Lucy dan Lockwood menghadapi hantu Annabel atau memasuki Kamar merah. Ah, ya, yang paling membuat saya bergidik merinding hingga takut membaca novel itu di malam hari adalah gambar cover.

Cover buku ini dihiasi dengan sebuah lubang kunci. Unik. Ketika membukanya, Anda bisa melihat hantu bocah perempuan berbaju putih sedang naik kuda-kudaan. Nuansanya seram. Sukses membuat bulu kuduk saya beridiri. Yang saya sayangkan, cover itu tak ada hubungannya dengan isi cerita karena Lucy dan kawan-kawannya sama sekali tak menemui hantu bocah perempuan.

Terlepas dari semua itu, saya sangat menikmati gaya penuturan Stroud yang lugas dan terkesan ceplas-ceplos melalui tokoh Lucy.
Ada sesuatu dalam penampilannya yang memicu insting terburuk seseorang. Wajahnya jenis yang minta ditampar—seorang biarawati saja bakal tidak tahan untuk menjotosnya—sementara bokongnya memohon untuk ditendang keras-keras. (Lucy tentang George)

Ini mengingatkan saya pada ‘kejujuran yang sarkas’ ala Bartimaeus. Pembaca yang tidak terbiasa membaca karya Stroud mungkin akan mengernyitkan dahi dan menganggap Lucy sebagai cewek kasar yang brutal. Tapi saya yakin, pendapat itu akan berubah setelah membaca salah satu novelnya. Inilah salah satu keunggulan Stroud: menciptakan karakter yang tak selalu sempurna, bahkan kadang suka mengumpat, tapi menarik simpati pembaca.

Secara keseluruhan, saya menilai novel ini lebih ciamik dari Trilogi Bartimaeus: setting yang kuat, karakter tokoh yang sangat menarik, alur yang bervariatif namun tak membingungkan, serta konflik yang membuat geregetan dan penasaran hingga akhir. Stroud juga selalu menyelipkan joke-joke ringan melalui tingkah tokohnya yang membuat saya beberapa kali nyengir sendiri. Lima bintang untuk Undakan Menjerit.

Ah, ya. Saya sangat bahagia ketika Stroud menyebutkan Indonesia di novel ini—meski itu hanya berupa sebuah penangkap hantu dari Indonesia.

Seperti Trilogy Bartimaeus, serial ini juga menggoda untuk dikoleksi. Ending movel ini membuat saya semakin tak sabar menanti sekuelnya yang kedua terbit di Indonesia :D




0 komentar:

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^