Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Sabtu, 28 Juni 2014

[Bukan] Jodohku

Sabtu, 28 Juni 2014


Kamu berdiri di sana mengenakan gaun yang sejak dulu kau impikan: gaun pengantin putih dengan sulaman mawar merah muda lembut di setiap jengkalnya dan untaian mawar sugguhan di pucuk kepalamu. Kamu tersenyum padaku. Cantik. Tapi aku bisa menangkap luka yang terpancar melalui bola matamu.

Kutangkap dengan jelas apa kata hatimu.  “Aku mencintaimu.”

Aku sangsi. Benarkah? 

“Sungguh, aku benci semua ini.”

Aku juga.

“Mengapa takdir tak memihak pada kita?”

Kita? Mungin hanya aku saja. Lihatlah, ia sangat tampan.

Dua meter. Jarak itu membentang di antara kita. Ya, hanya beberapa langkah saja. Tapi bisikan-bisikan dalam kepalaku mulai bermunculan dan membuat satu langkah saja terasa berat. Ayolah, apa susahnya, cuma menyalami?

Lima langkah lagi. Kamu masih berdiri di sana sambil mengamit lengan lelaki itu. Kamu masih tersenyum. Berlawanan denganmu yang tampak menikmati semua ini, wajahku terasa kebas. Aku berusaha tersenyum meski rasanya sangat sulit. Sekarang tanganku pasti sedingin orang mati. Dan sialnya, bisikan-bisikan menyebalkan itu masih terdengar. Ayolah, kau lambat sekali. Tamu-tamu lain mulai kesal di belakangmu!

Tiba-tiba kudengar bisikan lain yang terdengar lebih tenang dan lembut. Entah darimana, tapi aku yakin, itu tidak datang dari kepalaku. Yang dikatakannya sungguh menggoda.

Empat langkah lagi. Gerakanku pasti telihat seperti robot. Tiga langkah lagi. Sepatuku terasa seberat godam baja. Dua langkah lagi. Wajahku pasti tak karu-karuan dan mataku pasti hampir mencolot keluar dari tempatnya. Langkah terakhir. Kamu tersenyum. 

Detik itu, ketika tanganku menyentuh tanganmu, aliran waktu seolah terhenti.

****

Bisa kudengar deru napasmu di sampingku. Kudengar juga detak jantungmu yang melaju tak terkendali. Tanganmu ternyata sama dinginnya dengan tanganku. “Taksi!” teriakku memanggil sebuah taksi yang melintas.

Diantara mesin yang menderu lembut, kita berdua duduk terengah-engah, berusaha meredam semua rasa yang bergolak begitu cepat.

PS: Inspired by Jodoh Pasti Bertemu (Afghan)





2 komentar:

Putri Devina mengatakan...

haahahahaha depannya ngena banget ,, eh akhirnya sungguh disayangkan ,wkwk

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

tes 123

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^