Sample Text

Life is like a ferris wheel. Sometimes growin up to the sky, sometimes fallin to the ground. But no matter what happened, its always interesting to be enjoyed. Because life is never ending adventure

Rabu, 27 Juni 2012

Industri Perbankan, Berisiko Namun Menantang untuk Digeluti

Rabu, 27 Juni 2012

Pebisnis bukan hanya orang yang menguasai materi manajemen dan ekonomi. Pebisnis  adalah mereka yang berani mengambil resiko ketika orang lain terlalu takut untuk mencoba. Pebisnis adalah mereka yang terus mencoba ketika orang lain berhenti karena putus asa. Pebisnis adalah mereka yang mampu melihat dan memanfaatkan sebuah peluang walau hanya sebesar lubang jarum. Bisnis adalah tentang kecerdasan, pegetahuan, kegigihan, pengalaman, dan intuisi.

Group Bakrie adalah sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di beberapa sektor strategis dan kini telah berkembang dengan sangat pesat. Sektor-sektor strategis tersebut antara lain sektor telekomunikasi dengan Bakrie Telecom, sektor pengolahan sumber daya alam dengan Bumi Resources, maupun media online dengan Vivanews.

Tujuh puluh tahun bukan merupakan kurun waktu yang singkat, namun prestasi Group Bakrie tak dapat dipandang sebelah mata. Manajemen yang dikelola dengan profesional dan rapi bersanding dengan keputusan-keputusan yang berani dan inovatif membuat Group Bakrie menjadi salah satu perusahaan raksasa di nusantara. Kinerja yang apik terlihat dari sepak terjang Group Bakrie dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang nyaris bangkrut dan merombaknya menjadi perusahaan yang cukup sukses. Sebut saja Lativi yang dulu hampir bangkrut karena terlilit hutang dan ber-rating rendah, namun setelah diakuisisi berubah menjadi TV One yang menjadi salah satu menjadi leader news station di Indonesia.

Mengakuisisi sebuah stasiun televisi swasta yang hampir bangkrut, siapa berani?


Dalam sepak terjangnya selama tujuh puluh tahun, tak hanya kesuksesan yang diterima. Seperti perusahaan lainnya, Group Bakrie juga tak lepas dari terjangan permasalahan. Semakin tinggi sebuah gedung, semakin kencang angin menerpanya. Begitu juga dengan Bakrie Group, semakin sukses instansinya, semakin besar pula risiko yang menghadangnya. Salah satu kasus Group Bakrie yang mencuat lama di media massa adalah kasus Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo. Akibat kasus tersebut tak diragukan lagi bahwa kepercayaan dan simati publik terhadap Bakrie Group menurun dengan drastis, tak hanya para korban namun juga masyarakat yang menyaksikan tayangan di televisi.

Simpati publik tampak tidak terlalu signifikan efeknya terhadap kinerja perusahaan, namun tidak dapat diabaikan begitu saja.

Belum pernah terlintas di benak saya untuk menjadi seorang CEO, apalagi untuk menjadi CEO di perusahaan sekaliber Group Bakrie. Apalagi dengan pengetahuan dan pengalaman yang masih tergolong minim di bidang manajemen dan bisnis. Tapi biarlah kreativitas di benak saya menari-nari dan menghadirkan apa yang mungkin belum terpikirkan oleh orang lain.

Strength: Kesusksesan, Tantangan untuk Menapaki Ranah Baru



Tujuh puluh tahun. Dalam kurung waktu yang tidak singkat, segala kemungkinan mungkin saja terjadi. Perusahaan yang dulunya sukses, mungkin saja kini hanya sebatas kenangan. Sebaliknya, perusahaan yang dulu sederhana mungkin kini telah berubah menjadi perusahaan multinasional. Dan tampaknya Group Bakrie tidak termasuk ke dalam golongan pertama. Dengan perkembangan yang pesat, terbuktilah keunggulan kinerja Group Bakrie.

Dilihat dari kesuksesan akuisisi Lativi yang kini menjadi TV One, Ratelindo yang kini menjadi Bakrie Telecom dan terkenal akan produknya yakni Esia dan AHA, Group Bakrie mempunyai strength atau kekuatan yang mungkin tidak dimiliki perusahaan-perusahaan lain. Strength tersebut adalah keahlian dalam merevitalisasi sistem sebuah perusahaan yang hampir bangkrut. Keahlian memperbaiki sistem dan manajemen sehingga dapat menumbuhkan kembali sebuah usaha yang hampir jatuh terpuruk. Sebuah kekuatan yang sangat layak untuk dimanfaatkan dan dikembangkan.

Dengan didukung strength berupa kekokohan yang telah teruji selama puluhan tahun, tak cukuplah jika Group Bakrie berhenti sampai di sini. Sudah sewajarnya seorang bisnisman mencoba hal-hal baru, atau dalam hal ini mencoba menapaki lahan bisnis baru. Seperti yang selama ini telah dilakukan Group Bakrie dengan berinvestasi pada bidang-bidang strategis semisal komunikasi, pengolahan sumber daya alam, dan media. Untuk dapat berkembang lebih jauh, Group Bakie perlu memasuki sebuah industri yang memegang peranan penting dalam perkembangan industri-industri lain. Dengan didukung strength yang lain yakni banyaknya ekuitas yang tersedia, saya rasa bukan merupakan masalah besar jika Bakrie Group memperlebar sayap-sayap bisnisnya.

Weakness: Pencitraan di Media dan Sistem Prosedur Opersional, Perlu Pembenahan


Media adalah sebuah pedang bermata dua. Ketika seseorang, sebuah instansi, atau suatu kejadian mulai mendapat sorotan media, maka akan ada dua hal yang mungkin akan terjadi. Yang pertama adalah media menciptakan ketenaran dan simpati publik, media dapat membuat orang yang sebelumnya tak pernah dikenal menjadi sosok panutan.  Namun hal yang sebaliknya juga dapat terjadi, media dapat menghancurkan simpati publik kepada sesesorang. Faktanya, kemungkinan kedua lah yang lebih sering terjadi. Inilah yang menjadi titik weakness pertama, pencitraan di mata publik melalui media.

Kasus Lumpur Sidoarjo.

Ketika media mulai mencium kasus Lumpur Sidoarjo dan memberitakannya ke seluruh penjuru tanah air, maka dimulailah sebuah efek pedang bermata dua. Dengan pemberitaan media, Group Bakrie yang mungkin belum dikenal oleh sebagian orang menjadi lebih dikenal. Yang kedua adalah efek negatif, yakni turunnya simpati masyarakat terhadap Group Bakrie.  Dengan pemberitaan media atas kasus Lumpur Sidoarjo Bakrie Group mungkin saja kehilangan simpati masyarakat, namun di sisi lain juga mendapat publiksi tersendiri.

Untuk dapat mengatasi kasus-kasus tersebut diperlukan upaya menjaga hubungan baik dengan media sehingga media dapat mengekspos hal-hal positif yang dilakukan oleh Group Bakrie. Namun perlu diingat bahwa media bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan dengan mudah karena pada dasarnya media menyokong prinsip jurnalisme yakni netralitas, kebenaran, dan verifikasi. Sebuah media yang memegang teguh prinsip jurnalisme tidak akan mudah terpengaruh oleh politik karena menjunjung tinggi asas netralitas. Media yang baik memihak pada kebenaran. Satu-satunya cara agar mendapat sorotan positif dari media adalah dengan merealisasikan ‘kepositifan’ itu sendiri.  

Weakness yang kedua adalah sistem prosedur operasional. Group Bakrie harus memperbaiki sistem prosedur operasional terutama pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan sumber daya alam karena riskan terhadap kerusakan lingkungan. Lalai sedikit saja dalam prosedur operasionalnya, maka dapat menyebabkan kerusakan lingkungan seperti pada kasus Lumpur Sidoarjo. Jadi selain menjaga hubungan baik dengan media, juga diperlukan pembenahan sistem dari dalam.

Opportunities: Industri Perbankan, Layak Digeluti


Dengan strengths yang ada, tidak diragukan lagi bahwa Bakrie Group lebih dari mampu untuk mengembangkan sayap-sayapnya memasuki bidang bisnis baru. Group Bakrie perlu memasuki sebuah bidang strategis dimana selain memberikan keuntungan, namun juga berperan bagi bangsa dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi.


Bidang strategis tersebut adalah Industri Perbankan.

Industri keuangan, termasuk di dalamnya sekuritas dan perbankan memegang peranan vital atas perputaran uang di sebuah negara, yang artinya juga memegang peran vital dalam berjalannya industri-industri lain. Dengan memasuki industri perbankan, berarti Group Bakrie akan memiliki jangkauan yang lebih luas.

Kita yang mengeksekusi, kita juga yang mengelola sumber dananya. Jika selama ini para pebisnis menggunakan jasa perbankan untuk mempermudah transaksi keuangan, mengapa tidak memiliki jasa perbankan sendiri? Dengan memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan atau perbankan, akan lebih leluasa dan menguntungkan.

Bermacam-macam jenis bisnis yang dimiliki oleh Group Bakrie menunjukkan bahwa Group Bakrie melakukan diversifikasi risiko dengan cukup baik. Artinya ketika ada salah satu investasi yang gagal, maka pemilik tidak perlu kebakaran jenggot karena masih terdapat beberapa bisnis lain. Investasi dalam bidang keuangan bukan berarti tidak beresiko. Ada hal yang harus dilakukan untuk mendiversifikasi risiko tersebut antara lain dengan memecah-mecah investasi atau saham yang ditanam. Untuk itulah manajemen risiko sangat diperlukan ketika mencoba berkiprah dalam industri keuangan.

Bidang perbankan adalah bidang yang penuh dengan risiko. Risiko terbesar muncul ketika terjadi krisis moneter dan diperparah dengan stabilitas nasional yang tidak mendukung. Contohnya pada tahun 1998 dimana krisis moneter terjadi. Perusahaan-perusahaan yang tidak cukup kokoh dengan mudahnya jatuh terhempas dalam kebangkrutan, sedang perusahaan yang kokoh berhasil selamat dan terus bergerak maju walau agak tersendat.

Selalu ada cara untuk merevitalisasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perbankan. Contohnya seperti yang dilakukan Agus Martowardoyo sebelum menjabat menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia. Beliau menggabungkan beberapa bank yang hampir bangkrut menjadi sebuah bank yang kini telah tumbuh besar menjadi bank yang terpercaya, yakni Bank Mandiri. Group Bakrie juga dapat mengambil kesempatan seperti yang telah dilakukan oleh Agus Martowardoyo tesebut. Memang beresiko, namun membuka sebuah pintu menuju bidang baru yang menguntungkan.

Threats: Media dan Regulasi, masalah yang lain.


Berbagai ancaman mungkin mendera Group Bakrie. Seperti telah disebutkan di awal, semakin tinggi sebuah gedung, semakin kencang angin menerpanya. Begitu juga dengan Bakrie Group, semakin sukses instansinya, semakin besar pula risiko yang menghadangnya. Ancaman terbesar terutama datang dari media, disusul dengan regulasi, dan kepercayaan masyarakat. Ketiganya, jika dikelola dengan baik dapat dijadikan suatu peluang tersendiri, namun jika dikesampingkan dapat menjadi sebuah ancaman.

Solusi untuk menaggulangi permasalahan pencitraan terkait dengan media adalah dengan menjaga hubungan baik dengan media. Memiliki sebuah media sendiri sebagai sarana pencitraan di mata publik memang tidak salah, namun tetap harus menjaga netralitas dan independensi pemberitaan yang dilakukan. Untuk mewujudkan hubungan baik dengan media, diperlukan perbaikan sistem dari dalam.

Regulasi yang selama ini diciptakan sebagian besar sertujuan untuk keuntungan  negara dan rakyat. Terkadang pemikiran itu tidak sejalan bahkan bertentangan dengan filosofi bisnis. Regulasi tentang pajak contohnya. Pajak digunakan untuk membiayai operasional negara, yang ditujukan untuk kemakmuran rakyatnya. Namun terkadang regulasi pajak terlihat tidak adil di mata para pebisnis. Ketika mereka sudah bersusah payah mencari keuntungan, tiba-tiba negara menarik pajak dengan jumlah yang besar.  Meskipun demikian, di balik penetapan jumlah pajak yang tidak sedikit tersebut, terdapat filosofi dan tujuan tertentu. Untuk itulah diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai regulasi yang ada. Group Bakrie perlu memiliki staf yang ahli di bidang hukum sehingga mampu memahami regulasi yang ada dengan lebih mendalam, bahkan jika mampu mencari celah pada regulasi yang ada.

Threat yang ketiga datang dari masyarakat. Masyarakat merupakan pangsa pasar perusahaan. Nmaun jika tidak diperhatikan, masyarakat dapat menjadi ancaman tersendiri. Masyarakat yang tidak percaya dapat berbalik dan menolak untuk menggunakan produk-produk Group Bakrie, dan yang lebih buruk, memberikan pengaruh persuasif kepada masyarakat lain. Oleh karena itu jika ingin meningkatkan pernjualan perusahaan, Group Bakrie perlu memperhatikan kesejahteraan masyarakat sebagai konsumen.Upaya tersebut dilaukan dengan usaha-usaha sosial, semisal bakti sosial atau pengembangan derah terpencil. Selain itu juga diperlukan upaya pelestarian alam di sekitar pabrik-pabrik yang dimiliki oeleeh Group Bakrie, dengan reboisasi atau penghijauan. Upaya tersebut perlu dilakukan agar masyarakat percaya bahwa Group Bakrie tidak ingin meraup keuntungan semata, namun juga memperhatikan kelesterian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.


Hal-hal tersebut mungkin saja sudah terbesit di pikiran orang lain, atau mungkin saja belum karena terdengar mustahil untuk dilakukan. Namun dalam dunia bisnis yang dinamis, tidak ada hal yang tidak  mungkin. Segala sesuatunya mungkin selama kita gigih dan cermat dalam mengupayakannya.

2 komentar:

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

Alhamdulillah 20 besar :D

Muamaroh Husnantiya mengatakan...

Alhamdulillah 20 besar :D

Poskan Komentar

Tulis kritik, saran, ato komentar sesuka kamu^^