Kamu berdiri di sana mengenakan gaun yang sejak dulu kau impikan: gaun pengantin putih dengan sulaman mawar merah muda lembut di setiap jengkalnya dan untaian mawar sugguhan di pucuk kepalamu. Kamu tersenyum padaku. Cantik. Tapi aku bisa menangkap luka yang terpancar melalui bola matamu.
Kutangkap dengan jelas apa kata hatimu. “Aku mencintaimu.”
Aku sangsi. Benarkah?
Klik untuk membaca lanjutannya
